Efek Blog
Showing posts with label penyakit Sistim Pernafasan. Show all posts
Showing posts with label penyakit Sistim Pernafasan. Show all posts

Saturday, 9 August 2014

Obat Penyakit TB (TUBERCULOSIS) USUS Herbal Alami

Artikel ini dibuat, karena terinspirasi dari pengalaman merawat pasien yang menderita TB Paru yang tdak mendapatkan pengobatan maksimal karena dianggap hanya batuk biasa, kemudian berniat berobat ketika paru- paru sudah dianggap sangat sempit untuk bernafas. Pasien dan istri ketemu tim dan berdiskusi untuk mendapatkan pengobatan dengan Tahitian Noni Bioactive Beverage. Dari gejala- gejala yang diberitahu oleh istri pasien, pasien potensial mengalami TB Paru. Tim menginstruksikan pasien untuk melakukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan bahwa penderita positif menderita TB Paru mengingat pasien dan istri belum pernah berobat ke dokter spesialis. Tim juga menanyakan apakah sebelumnya pasien pernah mengalami penyakit lainnya ??? Istri menjawab hanya menderita sakit maag saja. Tim menjelaskan bahwa selama mengkonsumsi Tahitian Noni Bioactive Beverage, pasien akan mengalami detoksifikasi (pembuangan racun/ pembersihan sel- sel tubuh dari zat- zat berbahaya) dan menimbulkan beberapa ketidaknyamanan seperti diare, mual, muntah, pusing, batuk- batuk, sesak dan lain sebagainya. Namun ketidaknyamanan tersebut memang akan muncul diakibatkan karena sel tubuh sedang sakit, ketidaknyamanan tersebut tidak akan dirasakan apabila sel- sel tubuh sehat. Bila penderita memiliki penyakit yang lain maka pasien akan merasakan kembali rasa sakit berhubungan dengan penyakit tersebut.
Beberapa hari kemudian, istri membawa suaminya untuk melakukan pemeriksaan laboratorium, namun sayang mereka salah mengikuti antrian….mereka mengikuti antrian untuk berobat ke dokter spesialis penyakit dalam. Sebelum mendiagnosa, dokter tersebut melakukan pemeriksaan X-Ray. Lalu dokter menyatakan bahwa pasien wajib rawat inap karena menderita TB. Paru. Karena niatan pasien dan istri hanya untuk cek saja, maka mereka tidak melakukan hal tersebut. Lalu, kembali mendiskusikan kondisi pasien kepada tim dan akhirnya sepakat mengkonsumsi Tahitian Noni Bioactive Beverage. Tim menyarankan ada baiknya pasien dirawat mengingat kondisi dalam keadaan lemah. Namun dengan mempertimbangkan beberapa hal, pasien dan istri tidak mau dirawat. Hanya dalam waktu 2 minggu TRUAGE Score pasien adalah 5, lewat dari 2 minggu konsumsi Tahitian Noni Bioactive Beverage pasien mengalami diare, kembung dan nafsu makan benar- benar menurun. Tim menginstruksikan pasien untuk berobat kedokter, tetapi diare hanya berhenti sampai sebatas obat saja. Jalan ke- 3 minggu batuk dan sesak hamper tidak ada lagi namun diare terus menerus, kondisi lemah, pucat karena nafsu makan menurun, ditambah terjadi haemorrhoid. Lalu istripun mengatakan bahwa sebelumnya pasien juga pernah mengalami hal ini. Akhirnya tim kembali menganjurkan pasien untuk benar- benar melakukan pengobatan. Dan pasienpun dirawat, setelah dilakukan pemeriksaan darah diagnose pasien TB Paru dan akan dilanjutkan pemeriksaan biakan sputum, tapi tenakes heran karena pasien tidak ada mengalami batuk ataupun sesak. Kemudian dilakukan pemeriksaan endoscopy lalu diagnosa TB Usus tegak.
Dari kisah nyata diatas, bahwa sebenarnya tidak ada sakit yang tidak didahului oleh tanda- tanda…ketika tanda- tanda sakit itu dating, apalagi tidak sembuh selama berbulan- bulan bahkan bertahun…maka hendaknya kita segera mencari pengobatan sebelum terlambat. Tidak ada kata tidak Mampu, kenapa kebanyakan kita MAMPU ketika penyakit sudah bermetastase dan sulit untuk disembuhkan ???  
Tuberkulosis (TBC atau TB) adalah penyakit infeksi pada saluran pernafasan yang disebabkan oleh bakteri. Bakteri ini merupakan bakteri basil yang sangat kuat sehingga memerlukan waktu lama untuk mengobatinya. Bakteri ini lebih sering menginfeksi organ paru-paru (90%) dibandingkan bagian lain tubuh manusia.

    Prevalensi
Tuberculosis (TBC) merupakan penyakit menular yang masih menjadi perhatian dunia. Hingga saat ini, belum ada satu negara pun yang bebas TBC. Angka kematian dan kesakitan akibat kuman mycobacterium tuberculosis ini pun tinggi.
Tingkat prevalensi penderita TBC di Indonesia diperkirakan sebesar 289 per 100 ribu penduduk dan insidensi sebesar 189 per 100 ribu penduduk. Bahkan 27 dari 1.000 penduduk terancam meninggal seperti yang dilaporkan Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia yang dihimpun sepanjang 2011 mengenai tuberkulosis (TBC) di Indonesia.
Laporan tersebut juga meliris bahwa angka penjaringan penderita baru TBC meningkat 8,46 persen dari 744 penderita TBC di 2010 menjadi 807 per 100.000 penduduk di 2011. Namun, kabar baiknya angka kesembuhan pada 2011 mencapai target sebesar 83,7 persen dan angka keberhasilan pengobatan pada 2011 mencapai target sebesar 90,3 persen.

Berdasarkan Tempat TB
Penyakit tuberkulosis bisa terjadi baik di paru maupun di luar paru. Tuberkulosis di luar paru bisa terjadi di tulang, selaput otak, di usus atau selaput usus yang disebut peritoneum. Walaupun jarang, tuberkulosis bahkan juga bisa terjadi di kulit. 
Tuberkulosis pada umumnya disebabkan oleh kuman Mycobacterim tuberculosis. Penderita paru yang tak diobati bisa mengeluarkan butiran ludah (droplet) yang mengandung kuman tuberkulosis. Butiran tersebut bisa terhirup orang lain dan masuk ke dalam paru-paru. Kuman akan bersarang di sana dan kemudian juga bisa menyebar melalui kelenjar bening dan darah. Penyebaran melalui darah memungkinkan terjadinya tuberkulosis di luar paru seperti peritonitis tuberkulosa (radang selaput usus karena tuberkulosis).

Penyebab TB Usus
Mendengar istilah penyakit TBC usus, orang sering mengaitkan nya dengan penyakit TBC yang banyak di idap anggota masyarakat TB Paru yang menyerang paru-paru. Memang TBC pada organ utama pernapasan itu erat sekali kaitannya dengan penyakit TB Usus. Malahan kuman – kuman dari TBC paru disinyalir sebagai penyebab utama munculnya penyakit TBC usus itu. Penyakit TB usus di perkirakan oleh serangan kuman TBC.
Seperti yang terjadi pada pasien kami, yang mengalami TB Usus namun sebelumnya telah menderita TB Paru.

Kuman ini bisa berasal dari penyakit TBC aktif di paru-paru dan darah yang mengandung kumah TBC lalu masuk ke dalam lambung. Kemudian terbawa ikut masuk ke usus halus dan berkembang biak di tempat yang baru. kuman di usus dan bagian – bagian lain pada saluran pencernaan juga selaput penutup usus di rongga perut.
Penyakit TB usus ini menimbulkan gejala berupa perut terasa kembung, muntah dan mencret disertai rasa sakit di perut. Akibat yang lebih berat lagi adalah adanya sumbatan usus atau pembesaran di bagian usus tertentu dan teraba sebagai tumor di perut bagian kanan bawah. Pada TB usus sering pula usus tidak di temukan sama sekali penyakit nya.

Gejala Umum
Gejala umum peritonitis tuberkulosa yaitu tuberkulosis pada dinding perut (peritoneum). Gejala ini hampir sama pada penyakit tuberkulosa di paru yaitu :
1.    Demam,
2.    Nafsu makan berkurang,
3.    Berat badan turun, 
4.    Merasa nyeri di perut.
5.    Selain itu, juga akan terdapat gejala khusus yang berkaitan dengan gangguan fungsi usus seperti nyeri perut, ada benjolan di perut atau gangguan buang air besar. Pada keadaan akut bisa terjadi peritonitis tuberkulosa yang disangka appendicitis (radang usus buntu). Pada operasi akan didapati usus buntu namun terdapat bercak putih pada selaput dinding perut yang menyerupai keju.

Diagnosis
Diagnosis peritonitis tuberkulosa lebih sulit ditegakkan daripada tuberkulosis paru. Di samping pemeriksaan klinis diperlukan juga pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan ultrasonografi, CT Scan abdomen, bahkan mungkin pemeriksaan laparaskopi. Oleh karena itu, memang biasanya diagnosis agak lambat. Untunglah, terapi peritonitis tuberkulosa pada prinsipnya sama dengan tuberkulosis paru. Hasil pengobatan juga baik namun diperlukan kepatuhan minum obat. Setelah dua minggu minum obat biasanya gejala mulai berkurang, nafsu makan membaik, dan kemudian pasien merasa sehat. Berat badan juga akan meningkat. Meski sudah merasa sehat namun jangan sampai obat tuberkulosis dihentikan. Berkonsultasilah dengan dokter dan pahami obat-obat yang digunakan serta berapa lama obat tersebut perlu digunakan.
Obat tuberkulosis dewasa ini umumnya jarang menimbulkan efek samping. Jika terjadi efek samping biasanya ringan. Karena itu jangan sampai menghentikan obat sendiri jika terjadi efek samping. Segeralah berkonsultasi dengan dokter agar bisa dicarikan obat pengganti atau obat yang sama akan tetap diberikan namun dalam dosis bertahap.
Penularan tuberkulosis biasanya melalui butiran ludah seperti dikemukan sebelumnya. Pada umumnya seseorang yang mengalami peritonitis tuberkulosa, setelah kuman tuberkulosa di udara terhirup masuk ke paru, kemudian kuman tersebut akan menyebar ke luar paru. Namun ada beberapa faktor yang memudahkan penularan kuman tuberkulosis yaitu lingkungan udara yang pengap, adanya sumber penularan berupa penderita tuberkulosis paru yang tidak diobati, atau diobati namun tidak tuntas, serta orang sekitar yang kekebalan tubuhnya rendah misalnya karena kurang gizi. Karena itu tuberkulosis lebih banyak dijumpai di permukiman padat, kumuh dengan penduduk yang kekebalan tubuhnya rendah.
Perbaikan lingkungan serta keadaan kesehatan penduduk yang baik akan mampu mengurangi penularan tuberkulosis. Salah satu usaha terpenting adalah menemukan penderita tuberkulosis paru dan mengobatinya sehingga tidak lagi menjadi sumber penularan. Selain itu, keadaan lain yang juga perlu diperhatikan adalah gejala batuk. Jika batuk lebih dari dua minggu, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter agar bisa dilakukan evaluasi, apakah batuk tersebut memang disebabkan oleh tuberkulosis paru. Peritonitis tuberkulosa jika tidak diobati, bisa menimbulkan komplikasi serius, misalnya perlengketan usus yang bisa menyebabkan usus menjadi tersumbat.
Menjaga kesehatan pada umumnya, seperti: gizi yang baik, istirahat yang cukup, serta lingkungan sekitar dengan udara yang bersih merupakan hal yang harus dilakukan untuk menjaga agar keluarga Anda tidak tertular tuberkulosis. Imunisasi untuk mencegah penularan tuberkulosis diberikan pada semua anak dalam bentuk program imunisasi nasional melalui penyuntikan BCG.

VII. Pengobatan TRADISIONAL ALAMI PENYAKIT TB USUS dengan Tahitian Noni Bioactive Beverage
Mekanisme Kerja TNBB (Tahitian Noni Bioactive Beverage)
Mekanisme kerja secara ilmiah mampu bekerja di tingkat molekular untuk :
1.    meningkatkan dan merevitalisasi sistem kerja tubuh (self healing), bekerja melindungi, memperbaiki, mengaktifkan, meremajakan dan meregenerasi sel secara optimal.
2.    Memberikan efek manfaat yang optimal serta aman dikonsumsi baik oleh wanita hamil, menyusui, bayi, anak-anak hinggak orang dewasa, yang mencakup segala kondisi kesehatan.

Produk Tahitian Noni Bioactive Beverage (TNBB) BUKAN Untuk DICOBA tapi Sudah TERBUKTI. Bahkan Sudah Ribuan Pasien di Indonesia bahkan Jutaan Pasien di Dunia telah TERTOLONG dan BEBAS dari Masalah PENYAKIT Yang Di derita selama Berbulan-bulan bahkan ada yang sudah Bertahun-tahun.

Ketika Tahitian Noni Bioactive Beverage (TNBB) dinyatakan sebagai Produk Nutraseutikal yang AMAN, EKSOTIK dan TERUJI;
maka sesungguhnya pernyataan klaim ini berdasarkan RISET Yang BERKESINAMBUNGAN. Bertahapnya Anugrah Hak Paten dari USPTO (United States Patent Application) dan WIPO (World Intellectual Property Organization) yang setiap tahun terus bertambah. Bahkan Ratusan Hak Paten Efek  Terapeutik TAHITIAN NONI Juice itupun merupakan Hasil Riset yang  Berkesinambungan.

Program Riset Berkesinambungan adalah KOMITMEN UTAMA Tahitian Noni International Inc.
Untuk terus mengeksplorasi rahasia etnomedika warisan nenek bangsa  Polinesia dan mempersembahkan produk olahan Morinda citrifolia L. Yang TERBAIK untuk MASYARAKAT DUNIA (Global). Hal ini terbukti dengan terjadinya peningkatan statistik publikasi  riset tahunan tentang Morinda citrifolia L. Pasca berdirinya Tahitian  Noni International.

Sejauh ini hasil-hasil riset Tahitian Noni Bioactive Beverage (TNBB) telah dipublikasikan  dalam sejumlah jurnal internasional. Banyaknya publikasi ini  mengisyaratkan komunitas ilmiah internasional telah mengakui eksitensiTahitian Noni Bioactive Beverage (TNBB)  pada khususnya, dan etnomedika Morinda citrifolia  L. pada umumnya.

Pengobatan alami Tuberkulosis Usus dengan TAHITIAN NONI ® Bioactive Beverage ™. TAHITIAN NONI ® merupakan pengobatan alami Tuberkulosis Usus, aman tanpa efek samping dalam proses penyembuhan nya.
1.    Adapun konsentrasi ekstrak dari Tahitian Noni® Bioactive Beverage™ mampu membunuh 89% pathogen yang menyebabkan tuberkolosis (anti bakteri).
2.    Tahitian Noni® Bioactive Beverage™ mengandung iridoid sebagai anti inflamasi yang baik dan bersifat sebagai adaptogen.
3.    Tahitian Noni® Bioactive Beverage™ sebagai imunomudulator sehingga dapat meningkatkan imunitas kesehatan tubuh dan memulihkan kesehatan penderita Tuberculosis
4.    Tahitian Noni® Bioactive Beverage™ sebagai sumber energi yang kaya akan vitamin dan mineral serta asam amino untuk pemulihan kondisi penderita TBC.

"Jangan Sampai Terbiarkan, Sehingga Nyawa Yang Tersayang Melayang"











Thursday, 7 August 2014

Obat herbal radang paru lobularis/Bronkopneumonia (Pneumonia Lobularis)

 
Bronkopneumonia merupakan penyakit peradangan pada saluran pernafasan (bronkus dan paru-paru). Bronkopneumonia dapat disebabkan oleh virus, bakteri, atau jamur. Tingkat kematian bronkopneumonia sangat tinggi dan diperkirakan sekitar 4 juta anak meninggal di seluruh dunia setiap tahunnya akibat bronkopneumonia. Di beberapa rumah sakit seringkali ditemukan juga pneumonia yang menular karena perawatan dan kebersihan yang tidak baik (pneumonia acquired hospitalization).

Bronkopneumonia disebut juga pneumonia lobularis yaitu suatu peradangan pada parenkim paru yang terlokalisir yang biasanya mengenai bronkiolus dan juga mengenai alveolus disekitarnya, yang sering menimpa anak-anak dan balita, yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing.

Bronkopneumonia adalah peradangan pada parenkim paru yang melibatkan bronkus atau bronkiolus yang berupa distribusi berbentuk bercak-bercak (patchy distribution) (Bennete, 2013).


Kebanyakan kasus pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme, tetapi ada juga sejumlah penyebab non infeksi yang perlu dipertimbangkan. Bronkopneumonia lebih sering merupakan infeksi sekunder terhadap berbagai keadaan yang melemahkan daya tahan tubuh tetapi bisa juga sebagai infeksi primer yang biasanya kita jumpai pada anak-anak dan orang dewasa.

Bakteri seperti Haemophilus Influenza (bedakan dengan virus influenza), Streptococcus Pneumonia seringkali menyebabkan bronkopneumonia yang cukup parah.

Epidemiologi Bronkopneumonia
Insiden penyakit ini pada negara berkembang hampir 30% pada anak-anak di bawah umur 5 tahun dengan resiko kematian yang tinggi, sedangkan di Amerika pneumonia menunjukkan angka 13% dari seluruh penyakit infeksi pada anak di bawah umur 2 tahun (Bradley et.al., 2011).

Insiden Bronkopneumonia
Insiden penyakit ini pada negara berkembang hampir 30% pada anak-anak di bawah umur 5 tahun dengan resiko kematian yang tinggi, sedangkan di Amerika pneumonia menunjukkan angka 13% dari seluruh penyakit infeksi pada anak di bawah umur 2 tahun. Inilah juga yang dimaksud dengan epidemiologi penyakit yang satu ini.
 
Klasifikasi Bronkopneumonia
Pembagian pneumonia sendiri pada dasarnya tidak ada yang memuaskan, dan pada umumnya pembagian berdasarkan anatomi dan etiologi. Beberapa ahli telah membuktikan bahwa pembagian pneumonia berdasarkan etiologi terbukti secara klinis dan memberikan terapi yang lebih relevan (Bradley et.al., 2011).
1. Berdasarkan lokasi lesi di paru
a. Pneumonia lobaris
b. Pneumonia interstitialis
c. Bronkopneumonia

2. Berdasarkan asal infeksi
a. Pneumonia yang didapat dari masyarkat (community acquired pneumonia = CAP)
b. Pneumonia yang didapat dari rumah sakit (hospital-based pneumonia)

3. Berdasarkan mikroorganisme penyebab
a. Pneumonia bakteri
b. Pneumonia virus
c. Pneumonia mikoplasma
d. Pneumonia jamur

4. Berdasarkan karakteristik penyakit
a. Pneumonia tipikal
b. Pneumonia atipikal

5. Berdasarkan lama penyakit
a. Pneumonia akut
b. Pneumonia persisten
Penyebab Bronchopneumonia
Penyebab etiologi bronkopneumonia terbagi menjadi 4 hal yang bisa menyebabkan terjadinya infeksi pada paru khususnya parenkhim paru ini adalah sebagai berikut :
  • Bakteri. Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organisme gram posifif seperti : Steptococcus pneumonia, S. aerous, dan streptococcus pyogenesis. Bakteri gram negatif seperti Haemophilus influenza, klebsiella pneumonia dan P. Aeruginosa.
  • Virus. Disebabkan oleh virus influensa yang menyebar melalui transmisi droplet. Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama pneumonia virus.
  • Jamur. Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran burung, tanah serta kompos.
  • Protozoa. Menimbulkan terjadinya Pneumocystis carinii pneumonia (CPC). Biasanya menjangkiti pasien yang mengalami immunosupresi. (Reeves, 2001)

Pada umumnya, bronkopneumonia disebabkan oleh infeksi bakteri, terutama bakteri piogenik yang membentuk pneumonia supuratif. Adenovirus, virus influenza, mikoplasma pneumoniae juga dapat berperan. Bronkopneumonia sering terjadi pada mereka yang berdaya tahan tubuh lemah dan memiliki gangguan imunitas saluran pernapasan. Anak-anak, lanjut usia dan penderita HIV/AIDS adalah populasi yang rentan penyakit ini.

Tanda dan Gejala Bronkopneumonia
Ada beberapa ciri anak yang menderita penyakit bronkopneumonia ini antara lain dapat dikenali dengan tanda serta gejala sebagai berikut :
  1. Kesulitan dan sakit pada saat pernafasan contohnya adalah Nyeri pleuritik, Nafas dangkal dan mendengkur, Takipnea (Nafas Cepat)
  2. Bunyi nafas di atas area yang menglami konsolidasi : Mengecil, kemudian menjadi hilang dan juga terdengar Krekels, ronkhi paru.
  3. Gerakan dada tidak simetris.
  4. Menggigil dan demam 38,8 ° C sampai 41,1°C, delirium.
  5. Diafoesis.
  6. Anoreksia.
  7. Malaise.
  8. Batuk kental, produktif Sputum kuning kehijauan kemudian berubah menjadi kemerahan atau berkarat.
  9. Gelisah.
  10. Sianosis Area sirkumoral, dasar kuku kebiruan.
  11. Masalah-masalah psikososial : disorientasi, ansietas, takut mati.
Diagnosis
Diagnosis bronkopneumonia ditegakkan dengan pemeriksaan yang lengkap termasuk juga foto rontgen dada, dan mungkin diperlukan analisis gas darah.
Anak dengan bronkopneumonia kebanyakan perlu dirawat di rumah sakit. Pengobatan sangat bergantung dari penyebabnya. Pada umumnya dokter akan memberikan juga obat antibiotik (terutama bila dicurigai penyebabnya adalah bakteri). Sekarang ini juga sudah tersedia vaksin HiB dan Vaksin IPD (Invasive Pneumococcal Disease) untuk mencegah terinfeksi bakteri Haemophilus Influenza tipe B dan bakteri Pneumokokus.

Pencegahan Bronkopneumonia
Penyakit bronkopneumonia dapat dicegah dengan menghindari kontak dengan penderita atau mengobati secara dini penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya bronkopneumonia ini. Selain itu hal-hal yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan daya tahan tubuh kita terhadap berbagai penyakit saluran nafas seperti halnya sebagai berikut : 
  1. Pola hidup sehat,  makan makanan bergizi dan teratur, menjaga kebersihan, beristirahat yang cukup, rajin berolahraga.
  2. Melakukan vaksinasi juga diharapkan dapat mengurangi kemungkinan terinfeksi antara lain : Vaksinasi Pneumokokus, Vaksinasi H. influenza, Vaksinasi Varisela yang dianjurkan pada anak dengan daya tahan tubuh rendah, Vaksin influenza yang diberikan pada anak sebelum anak sakit.
Komplikasi Bronkopneumonia
Penyakit bronkopneumonia ini selain terjadi pada dewasa, seringkali juga terjadi bronkopneumonia pada anak. Berikut beberapa komplikasi dari penyakit bronkopneumonia yaitu :
  • Atelektasis adalah pengembangan paru-paru yang tidak sempurna atau kolaps paru merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau refleks batuk hilang.
  • Abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang.
  • Empisema adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam rongga pleura terdapat di satu tempat atau seluruh rongga pleura.
  • Endokarditis yaitu peradangan pada setiap katup endokardial.
  • Meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak
  • Infeksi sitemik.
Pengobatan Bronkopneumonia dengan Tahitian Noni Bioactive Beverage

Patent Terapi yang berhubungan dengan Penyembuhan Pneumonia ada di beberapa Patent Terapi tersebut ini :
Berikut daftar hak paten yang telah di Perolah Tahitian Noni (Morinda Bioactive) :

A. EFEK FISIOLOGIS XERONIN DAN ANTIOKSIDAN
  1. Xeronine: Alkaloid yang bermanfaat dalam bidang kedokteran, makanan dan industri : Mempertahankan Homoestasis dan aneka efek terapeutik. USPTO 4,543,212
  2. Uji Antioksidan TNBB: Aktifitas antioksidan TNBB signifikan meneutralisir terhadap SAR dan LPO tubuh (Radikal Bebas). SAR dan LPO mungkin diproduksi secara berlebihan di dalam tubuh sehingga mempengaruhi fungsi dan reproduksi seluler, atau merusak biomolekul sel sebagai awal terjadinya penyakit degeneratif, kanker, metabolik dan lain-lain. USPTO 60/251417
  3. Mereduksi Kerusakan Seluler didalam Tubuh Manusia: TNBB dapat me-Refungsionalisasi sel yang positif (Absorsi sel terhadap nutrisi yang bermanfaat dan regenerasi seluler), menstimulasi produksi sel Limfosit T dapat meningkatkan respon imun untuk mencegah infeksi, membunuh sel kanker atau sel yang terinfeksi virus, membersihkan radikal bebas (SAR,LPO,HPETEs). Meningkatkan pertahanan terhadap stress oksidatif (kerusakan protein, karbohidrat , lipid, dan DNA tubuh) sehingga dapat mereduksi kerusakan struktur dan fungsi seluler (mencegah inisiasi/implikasi terjadinya penyakit). WO 02/43664 A2
  4. Efek Inhibisi dan Preventive hasil olahan Morinda Citrifolia L, terhadap mutagenesis dan karsinogenesis pada mamalia: Morinda Citrifolia L dapat menurunkan frekuensi mutasi sel secara kumulativ (mutasi akibat bakteri, obat/antibiotik, mutasi penyebab kanker, penyakit genetik dan aging) Naturaseutikal Morinda Citrifolia L dapat memperbaiki kerusakan DNA pada kasus kanker atau penyakit kronis lainnya. Dan dapat mencegah mutasi akibat gangguan fungsi enzim sitokrom yang dipicu pemakaian obat. USPTO 20030157205
B. ANTINEOPLASTIK
  1. Efek Preventif Morinda Citrifolia L terhadap Kanker: Radikal bebas SAR dan LPO dapat merusak lipid, protein dan DNA penyusun struktur sel tubuh. Akibatnya terjadi perubahan fungsi atau reproduksi sel, bahkan kematian sel. TNBB berfungsi memproteksi sel akibat inefisiensi pertahanan (sistem enzim antioksidan) pada kasus kanker WO/2002/045654
  2. Formula dasar Morinda Citrifolia L untuk Meng-inhibisi Metastasis Sel-Sel Karsinogenik: Mekanisme antiadesi memungkinkan mencegah ikatan sel-sel malignan, mencegah adesi migrasi, oraganisasi sitoskeleton WO/2004/098514
  3.  Efek Antiangiogenesis Morinda Citrifolia L : Formula ini dapat memblok pembetukan pembuluh darah baru di area tumor dengan cara menginhibisi elongase pembuluh dan migrasi sel endotel. Dan akhirnya dapat menghambat metastasis sel kanker WO/2004/041186
  4.  Inhibisi Angiogenesis dan Destuksi Pembuluh Angiogenik dengan Morinda Citrifolia L: sangat efektif untuk mentritment kanker dan penyakit non kanker yang ditandai respon peningkatan angiogenesis, seperti retinopati prematur, neovaskularisasi glaukoma, retinopati diabetes, arthritis reumatoid dan psoriasis WO/2003/020296
  5. Formula dasar Morinda Citrifolia L untuk menginhibisi enzim Matriks Metalproteinase: sebagai Anti Degradasi ECM berlebihan (Matriks Extraseluler) Kasus Morfogenesis jaringan, pospartum involusi, angiogenesis, arthritis rheumatoid, ostheoarthritis, ruptur plak aterosklerosis, aneurisma aorta, periodontitis, pelepuhan kulit akibat Autoimmune, dermal foto-aging, invasi tumor dan terutama metastasis tumor.USPTO 20070184137
  6. Ekstrak Noni untuk Pencegahan Penyakit (Kanker): Komposisi ini disajikan dari ekstrak pulp buah noni, ekstrak butanol dari buah noni mengandung komponen glikosida aktif yang bermanfaat untuk prevensi dan tritmen berbagai penyakit (terutama kanker) USPTO 20030004116
  7. Sinergitas Efek Prefentive Morinda Citrifolia L terhadap Kanker : Kombinasi Morinda Citrifolia L dan MSM (Metilsulfonilmetan) mampu menginhibis karsinogenesis tahap awal yang sinergis, bila diaplikasikan pada pasien kanker payudara secara alami, efektif, ekonomis, tanpa disertai toksisitas penggunaan dalam jangka panjang, serta untuk pemulihan sel-sel kelenjar mamari dari karsinogenesis USPTO 04/29896
  8. Efek Preventif dan Tritmen Morinda Citrifolia L sebagai Inhibitor Aromatase : Penemuan ini difokuskan untuk mentritmenn kanker dependen estrogen (menghinhibisi. mendestruksi, me-reverse sel-sel kanker ) seperti kanker payudara, kanker uterus, kanker ovarium. USPTO 10/396868
  9. Efek Preventif Morinda Citrifolia L terhadap Kanker Payudara: Morinda Citrifolia L merupakan alternatif metode non-invasif untuk menginhibisi dan prevensi metastasis sel-sel karsinogenik di area kelenjar mamari serta mendestruksi sel kanker payudara yang telah bermetastasis. WO/2005/048919
  10. Metode Mentritmen Kerusakan Liver yang di induksi oleh Karbon Tetraklorida atau kondisi sejenis (adiksi alkohol dan hepatitis C) melalui aplikasi Morinda Citrifolia: Regenerasi jaringan sel di Liver sangat dibutuhkan, karena Liver berfungsi dalam metabolisme karbohidrat dan penyimpanan glikogen lipid (Kolesterol dan vitamin tertentu), protein, manufaktur empedu, menyaring toksin dalam darah, memproduksi faktor pembekuan darah, memproses sel darah merah yang rusak dan berperan dalam imunitas. jika perkembangan penyakit liver dengan tidak dapat di imbangi perbaikan regenerasi jaringan , maka fungsi metabolisme gagal. USPTO 20030086990
  11. Efek Preventif dan Tritmen Morinda Citrifolia L, sebagai Inhibitor Pertumbuhan Sel Kanker Kolon: Morinda Citrifolia L sebagai preventif dan tritment, inhibisi, mereduksi pertumbuhan sel kanker kolon serta mendestruksi sel kanker pada tahap awal di area kolon. Destruksi sel kanker tahap awal bertujuan untuk membunuh sel-sel kanker yang tumbuh di permukaan dalam kolon dan di dua lapisan pertama dinding kolon. Terapi konvensional untuk kanker tahap ini umumnya pembedahan (reseksi) atau pengangkatan area karsinogenesis. Sinergis dengan efek obat kemoterapi, tanpa memicu efek samping yang negatif. USPTO 7070813
C. ANTIINFLAMASI, ANTIALERGI, ANTINOSISEPTIF
  1. TNBB terhadap COX-1 dan COX-2 serta TNBB sebagai Inhibitor Selektif COX-2: sebagai anti inflamasi mengatasi berbagai kasus inflamasi akut dan kronik akibat ekspresi COX-2 berlebihan, untuk mentritmen demam, peradangan sendi, nyeri punggung dan leher, dismenorhea, keseleo dan kram otot, arthritis, termasuk degeneratif sendi (osteroarthritis), melindungi lambung, dan mempertahankan fungsi ginjal. TNBB dalam memblok COX-2 hampir setara dengan Obat inhibitor selektif COX-2, dengan keunggulan lebih aman dan praktis dalam penggunaannya, tanpa memicu efek samping penggunaan dalam jangka panjang. WO/2002/045734
  2. Formula Dasar Morinda Citrifolia L, untuk meng-inhibisi 5-LOX dan 15-LOX: Komposisi naturaseutikal Morinda Citrifolia L, dapat diaplikasikan untuk mentritmen, menginhibisi dan mencegah berbagai penyakit inflamasi (Asma, Artritis, Psoriasis, penyakit saluran kemih) dengan cara memblok lipooksigenase sehingga meregulasi produksi leukotrien WO/2005/120538
  3. Inhibisi Siklooksigenase dan Lipoksogenase : Formula Morinda Citrifolia L dalam mencegah dan mentritmen kanker dan kasus inflamasi (terutama individu diet tinggi lemak) dan secara sinergis dapat menginhibisi kelebihan enzim COX2, 5-LOX, 15-LOX (yang merupakan inisiator berbagai kasus kanker kolon, payudara, paru-paru dan lambung dan lain-lain) WO/2008/067410
  4. Komposisi Dasar Morinda Citrifolia L, untuk menyembuhkan Penyakit Inflamasi dengan cara menginhibisi COX-1, COX2, Interleukin -1, interleukin -6, TNF-a, HLE dan iNOS : Morinda Citrifolia L sebagai preventive dan tritmen penyakit Inflamasi, termasuk penyakit Infeksi, kanker kulit, nekrosis tumor, arthritis rheumatoid, sirosis alkoholik, lupus erithematosus, karsinoma, infeksi mikroba, parasit, crohn, emfisema pulmonal, kistik fibrosis, bronkhitis kronis, sindrom distres respirasi akut (ARDS), glomerulonefritis, Iskhemia serebal, syok septik, disfungsi miokadium, dan gangguan curah jantung) WO/2007/076024
  5. Komposisi dan Metode dasar Morinda Citrifolia L, untuk meng-inhibisi Xantin Oksidase: preventiv dan tritment terhadap penyakit yang berhubungan dengan kelebihan asam urat (mampu meningkatkan fungsi ginjal, mencegah hiperuresemia, dan meningkatkan fungsi jaringan penunjang) WO/2006/050012
  6. Efek Preventif dan Tritmen Morinda Citrifolia L, terhadap Osteoartritis dan kondisi sejenisnya : Formula naturaseutikal Morinda Citrifolia L dapat dimanfaatkan untuk mengurangi, mencegah dan menghambat degeneratif pada kartilago, terutama degenerasi protein penyusun kartilago. Selain itu, formula ini dapat dipakai untuk mengobati gejala yang serupa osteoarthritis atau untuk meningkatkan efikasi manajemen farmaseutikal osteoarthritis yang sudah ada. USPTO 7,033,624
  7. Metode dan Formula untuk Meng-inhibisi Fosfodiesterase secara alami : Formula naturseutikal Morinda Citrifolia L mampu meningkatkan kapasitas tubuh untuk menginhibisi enzim PDE (mereduksi reaksi alergi, serangan asma dan meningkatkan energi ) dalam kondisi patologis, tanpa disertai efek samping yang negatif USPTO 20070248701
D.ANTI (FUNGAL, BAKTERIAL, VIRAL, dan MIKROBIAL)
  1. Efek Antifungal dan Antibakterial Morinda Citrifolia L : Kandungan Etanol. Metanol dan Etil Asetat didalam Morinda Citrifolia L, terbukti memilki aktifitas antimikrobial ketika diuji melawan bakteri dan jamur patogen (S.aureus, E.coli, C.albicans, T.Mentagrophytes dan A.Niger) WO/2003/099310
  2. Formulasi Jus Puree Morinda Citrifolia L, untuk Meng-inhibisi Pertumbuhan Fungal dan Mikrobial : Penelitian efek letal terhadap mikroba, efek antialergi, efek neutralisasi toksin/antigen, efek anti inflamasi dan efek induksi respon imun, dapat mencegah, menghambat, membunuh jamur atau bakteri patogen, ini ditujukan kepada terapi imunokompromis, terapi infeksi jamur/bakteri dan aplikasi sistem pertanian organik. USPTO 7,048,952
  3. Metode dan Formula Morinda Citrifolia L untuk Menyembuhkan Kandidiasis: Morinda Citrifolia dapat meng-inhibisi atau mencegah pertumbuhan jamur kandida, dan untuk menyembuhkan kandidiasis atau gejala yang sejenisnya. Kandidiasis sangat berbahaya untuk penderita Kanker, Leukemia/kandidiasis hepatosplenik, dan kandidiasis endokarditis. Dan dapat diaplikasikan untuk prevensi resiko kandidiasis pada pasien yang menjalani terapi hormonal, kortikosteroid, kontrasepsii tinggi estrogen, terapi kanker atau HIV, diabetes, gangguan endokrin, tiroid serta infeksi via plasenta. USPTO 7,014,873
  4. Formula Dasar Morinda Citrifolia L, untuk regulasi Imunomodulasi Sel T pada Stok Hewan Neonatal : WO/2009/032851
  5. Formula Dasar dan Metode Aplikasi Morinda Citrifolia L sebagai Antiviral: Morinda Citrifolia L dapat menginhibisi dan mentritment serta prevensi terhadap penyakit yang berhubungan dengan kelebihan enzim Katepsin, Peptidase HIV-1 dan enzim NF-kB. Sebagai manajemen infeksi AIDS, Kanker, Autoimmune dan Degenerative. WO/2007/064601
  6. Formula dan Metode untuk Inhibisi Anaerobik, Bakteri Gram Negatif, Protozoa, dan Pertumbuhan Mikroba lainnya dengan Formula Morinda Citrifolia L : WO/2009/006565
  7. Komposisi Fitonutraseutikal yang Bekerja Sinergis terhadap penyakit HIV/AIDS dan Autoimmune: Morinda Citrifolia L dapat berfungsi sebagai biointelijen dalam proses penyembuhan imunokompromis atau Autoimmune, selain bekerja meningkatkan energi dan memproteksi sel atau jaringan. Dapat juga mengurangi efek samping dari obat medis/sintetis dan mendatangkan efikasi yang optimal. Semua pasien yang diterapi dengan kombinasi tersebut 94.59 % mengalami peningkatan perbaikan gejala klinik dan kualitas hidup USPTO 7.604,823
E. TERAPI NEURODEGENERATIF, DEPRESI dan ADIKSI
  1. Metode dan Komposisi untuk Meng-inhibisi Monoamin Oksidase dan Katekol – O -Metiltransferase : kedua enzim tersebut berperan dalam oksidase dan metilasi neurotransmiter terutama untuk biosintesis Dopamin, Epinefrin, dan Norepinefrin serta Serotonin. Morinda Citrifolia L dapat mempertahankan fungsi koordinasi sistem saraf (mengatasi neurodegeneratif dan gangguan neurologi ) pada kasus parkinson, depresi, alzeimer dan sejenisnya. WO/2005/086937
  2. Metode dan Komposisi untuk mereaktivasi Asetilkolinesterase : Morinda Citrifolia L dapat diaplikasikan untuk mentritmen pasien yang mengalami gangguan aktivitas kolinesterase akibat inhibisi tabun, sarin, VX, orgnofosfat dan agen kimia sisa peperangan. WO/2005/086834
  3. Formula dan Metode Naturaseutikal untuk penyembuhan dan Prevensi Sakit Kepala Migrain: Kandungan bioaktif Xeronin dalam TNBB memiliki efek neuroproteksi dan fungsionalisasi berbagai protein vaskuler. Mampu mencegah abnormalisasi lepas muatan listrik di sistem trigeminovaskuler dan mencegah vasonkonstriksi, serta mencegah pengaruh penurunan kadar serotonin sewaktu serangan migrain. Serotonin merupakan neurotransmiter yang berperan dalam komunikasi antara otak dan tubuh secara keseluruhan. Kadarnya menurun ketika terjadi serangan migrain sehingga memicu terjadinya nyeri migrain USPTO 20030108630
  4. Metode penyembuhan Gangguan Penglihatan dengan Aplikasi Propllaktik Naturaseutikal Dasar Morinda Citrifolia L: dengan di minumkan dan diteteskan di mata untuk kasus galukoma, retinopati diabetes, retinitis pigmentosa, katarak dan degenerasi makular USPTO 20030134002
  5. Antagonis Reseptor Asetikolin Nikotinik: Morinda Citrifolia L diapikasikan untuk tritment, dan mencegah komplikasi gangguan primer aktivitas nAchRs, serta inhibisi dan prevensi adiksi produk tembakau atau nikotin. Dapat meningkatkan efektivitas manajemen antagonis reseptor asetilkon nikotinik pada pasien adiksi nikotin dengan cara mengeliminasi efek samping obat ketika bekerja pada nAchR dan kandungan Xeronin efektif untuk tritmen pasien adiksi rokok dan obat-obatan, tanpa disertai ketegangan USPTO 20060280818
  6. Formula dan Metode untuk Prevensi dan Mentritmen Penyalahgunaan Obat dan Adiksi: USPTO 20070166416
  7. Pemanfaatan Komposisi Morinda Citrifolia L: untuk terapi Tinitus ditingkatkan dengan komposisi likopen, vitamin C, koenzim Q10 dan Glinggo biloba, hasil uji klinik terhadap pasien pria lansia 87 thn yang mengalami serangan tinitus hebat selama beberapa tahun terakhir, memperlihatkan efek terapeutik Morinda Citrifolia L, dosis 30 ml/hari selama 3 bulan, ditandai dengan penurunan gangguan kebisingan sebesar 75% dari durasi harian dan intensitas maksimal kebisingan juga menurun secara signifikan. Setelah 5 bulan menjalani terapi tersebut. Serangan kebisingan hanya terjadi sesekali. WO/2001/064231
  8. Inhibisi Diston Deasetilase (HDAC) dan Enzim Pengkonversi Faktor Nekrosis Tumor (TACE): Morinda Citrifolia sebagai prevensi dan tritmen neurodegenerative dan inflamasi kronis (penyakit Hutington, arthritis rhematoid atau kondisi sejenisnya) sehingga gejala penyakit itu tereduksi atau tereliminasi tanpa resiko efek samping apapun. EP1726309
F. METABOLISME dan INDUKSI FUNGSI REPRODUKSI
  1. Diabetes Tipe II: Morinda Citrifolia L didalam TNBB dapat mentritment dan prevensi diabetes, serta memiliki efek antidiabetes pada tingkat molekuler dengan cara memulihkan homeostasis insulin. Terutama perbaikan kerusakan sel-sel beta pankreas.WO/2005/067489
  2. Efek Prefentif dan Tritmen Morinda Citrifolia L terhadap Diabetik dan Kondisi Sejenisnya dengan cara: Menyeimbangkan output insulin dan transfer glukosa, menurunkan sintesis glukosa di liver, meningkatkan akselesari metabolisme glukosa, inhibisi absorbsi glukosa di saluran cerna, memperbaiki sel-sel beta pankreas yang tidak berfungsi, menekan reaksi autoimmune terhadap sel-sel beta pankreas dan mencegah dan meredam efek samping yang disebabkan oleh obat diabetes ( hipoglikemi, gangguan lambung, ruam kulit, gatal-gatal, berat badan bertambah, gangguan ginjal, lesu pusing serta diare) USPTO 20070178181
  3. Mentritmen Glaukoma dan Retinopati Diabetes dengan formula Morinda Citrifolia L: Hasil uji klinik pada pasien retinopati diabetes, katarak, alergi/iritasi mata dapat menginhibisi proliferasi pembuluh darah baru di retina, mencegah kebocoran vaskular dan pendarahan pada retina/makula, pasien retinopati diabetes melaporkan terjadi peningkatan (jelas) pandangan yang sebelumnya kabur sebagai implikasi ameliorasi katarak. Begitu juga dengan alergi dan iritasi mata, hasilnya positif sebagai tetes mata WO/2008/098211
  4. Diet Serat Morinda Citrifolia L: Produk olahan Morinda Citrifolia L dalam TNBB selain lebih dari 230 kandungan nutrisi dan bioaktif juga sangat kaya akan serat, protein, vitamin dan mineral, sehingga sangat potensial untuk keluhan metabolisme dan fungsi cerna. Studi epidemiologi membuktikan bahwa kelompok orang yang yang terbiasa mengkonsumsi serat makanan memiliki insiden divertikulitas, kanker kolon, diabetes melitus dan penyakit arteri koroner yang lebih rendah.WO/2001/015551
  5. Formula dan Metode Morinda Citrifolia L, untuk Manajemen Berat Badan: Obesitas merupakan jalan terjadinya penyakit diabetes II, hipertensi, stroke, penyakit arteri koroner, dan berbagi jenis kanker. TNBB mempercepat metabolisme yang memungkinkan setiap individu dapat membakar lebih banyak lemak tubuh dalam berolahraga dan dapat menghentikan kebiasaaan makan berlebihan, menurunkan nafsu makan yang seimbang, dan menghambat penyerapan kolesterol ke dalam darah serta mereduksi deposit kolesterol pada obesitas dan komplikasinya WO/2007/064547.
  6. Metode dan Komposisi untuk Mereduksi Oksiterol Darah : mekanisme antioksidan, antiinflamasi, antidegenerasi, dan induksi NO sangat signifikan menurunkan tekanan darah menjadi seimbang, menurunkan trigliserida, LDL, lipid peroksida, dan meningkatkan HDL WO/2002/056899
  7. Meningkatkan Profil Lipid Protein dan Mereduksi HMG-KoA Reduktase: merupakan mekanisme penting dalam biosintesis kolesterol, khususnya menurunkan kadar kolesterol plasma untuk mencegah aterosklerosis, meregulasi endotelial nitrit oksida sintase (eNOS) untuk memblok kaskade plak dan injuri serebral dalam kasus stroke iskhemia dan menurunkan kadar LDL untuk mencegah kardiovaskuler WO/2005/069844
  8. Metode dan Komposisi untuk menginhibisi Enzim Pengkonversi Angiotensin (ACE) dan Shimase: Morinda Citrifolia L dapat mecegah vaskontriksi akibat pengaruh ACE, serta menurunkan kadar garam, sedangkan inhibisi Shimase bermanfaat untuk survival kasus infark miokardium, remodelling karidiovaskuler dan proteksi dari injuri kardiovaskuler, tanpa memicu efek samping. WO/2005/086935
  9. Inhibisi Produksi Estrogen Secara Selektif dan Efek Kontrol Estogenik didalam Tubuh Manusia : Morinda Citrifolia L dapat diaplikasikan untuk terapi pemulihan hormon dan untuk mentritmen atau prevensi berbagai penyakit dependen estrogen WO/2004/091545
  10. Pemanfaatan Ekstrak Morinda Citrifolia L dalam Spermatologi dan Metode untuk meningkatkan Preservasi Sperma: mampu menurunkan derajat kerusakan membran dan jumlah spermatozoa yang rusak dan menghasilkan materi inseminasi yang lebih berkualitas WO/2008/032132
  11. Komposisi untuk Meningkatkan Kadar Hormon : Morinda Citrifolia dapat menstimulasi produksi hormon, seperti testosteron dan hormon pertumbuhan pada pria WO/2005/084681
  12. Aplikasi Morinda Citrifolia L, untuk Meningkatkan Angka Kelahiran: memperbaiki kualiatas Sperma , meningkatkan dan mempertahankan ereksi , meningkatkan libido, dan mengembalikan masalah kesuburan pria dan wanita WO/2008/106405.
G. PERAWATAN GIGI-MULUT dan TERAPI DERMATOLOGI
  1. Komposisi dan Metode Dasar Morinda Citrifolia L untuk Perawatan Gigi-Mulut : dapat mencegah penyakit gusi dan karies, meningkatkan densitas kolagen, mereduksi plak dan aktivitas bakteri, meningkatkan respirasi seluler, menginhibisi aptus ulkus, menghilangkan noda geligi, mereduksi halitosis, serta memelihara kesehatan gigi dan mulut WO/2005/030141
  2.  Pemanfaatan Noni untuk Patologi Mulut seperti Mengatasi Masalah yang Berhubungan dengan Asialia dan Hiposialia : Penelitian Dr Ralph Heinicke memperlihatkan efikasi noni sebagai antibakterial untuk kasus defisiensi sekresi kelenjar saliva, yang berhubungan dengan Asialia dan Hiposialisa WO/2005/018655
  3. Metode dan Komposisi Morinda Citrifolia L untuk Mentritmen Gangguan Dermatologi : mencakup kulit kering, ketombe, kutil, jerawat, kerapuhan rambut, infeksi kuku, kertosis, psoriasis, eksim, pruritus, noda penuaan, kurang lembab, vena laba-laba, purpura senil, lentiginis, melasmas, guratan kulit, bisul, mengkerut, atrofi, impetigo, lesi prakanker, hiperpigmentasi, hiperkeratotik dan inflamasi dermatosis USPTO 20030091666
  4. Kosmetik Perbaikan Serum secara intensif dengan Morinda Citrifolia L: dapat diaplikasikan sebagai formula anti aging dan serum perawatan kulit (merevitalisasi, melembutkan melembabkan dan mengecangkan kulit) dikombinasikan dengan bahan alami lainnya yang mendatangkan efek serum perawatan dan tritmen kulit USPTO 6589514
  5. Morinda Citrifolia L Meningkatkan Tritmen Bibir: dapat merevitalisasi dan menghaluskan bibir, melembabkan bibir, memproteksi dan menyembuhkan bibir pecah-pecah, mereduksi gejala kerusakan dan penuaan bibir, mengatasi efek negatif elemen lingkungan dan mensuplay nutrisi yang menyehatkan bibir. USPTO 20030086989
H. KOMPOSISI JUS TERAPEUTIK dan PALIATIF
  1. Komposisi Jus Terapeutik untuk Wanita: Wanita yang akan memasuki usia pertengahan (35 tahun ke atas) sangat rentan mengalami berbagai masalah kesehatan seperti Hot Flash, keringat malam, perubahan mood, insomnia, dan keletihan. Keluhan tersebut berhubungan dengan defisiensi hormon yang dapat bermuara pada perubahan kualitas hidup. Manfaat TNBB mancakup : Anti Aging, mengatasi gejala PMS dan Menopouse, membentuk densitas tulang dan kartilago, menyehatkan kardiovaskular, mengatasi kulit memar atau mengkerut, merampingkan tubuh, serta berbagai gejala defisiensi atau kelebihan hormon (estrogen) pada wanita USPTO 20070122502.
  2. Formula Dasar, Daun & Ekstrak Daun Morinda Citrifolia WO/2007/064521
  3. Metode Komposisi Komponen Bioaktif Morinda Citrifolia WO/2007/134205
  4. Efek Paliatif Minyak Ikan dan Jus Morinda Citrifolia WO/2002/083159






Wednesday, 6 August 2014

Obat Herbal Radang Paru (Pneumonia)


Di Inggris, kejadian tahunan dari pneumonia adalah sekitar 6 kasus untuk setiap 1000 orang untuk kelompok usia 18-39. Bagi mereka 75 tahun lebih dari usia, ini meningkat menjadi 75 kasus untuk setiap 1000 orang. Sekitar 20-40% individu yang membutuhkan pneumonia kontrak yang masuk rumah sakit antara 5-10% diterima ke unit perawatan kritis. Demikian pula, angka kematian di Inggris adalah sekitar 5-10%. Individu-individu ini juga lebih cenderung memiliki episode berulang dari pneumonia. Bahkan UNICEF dan WHO menyebutkan pneumonia sebagai kematian tertinggi anak balita, melebihi penyakit-penyakit lain seperti campak, malaria serta AIDS.

Di negara berkembang, termasuk indonesia, Pneumonia menyerang setidaknya 150 juta anak setiap tahunnya dan menyebabkan satu dari lima kematian balita secara global. Sekitar 24% kematian balita diindonesia disebabkan oleh Pneumonia. Selain itu, indonesia adalah negara dengan insidensi pneumonia tertinggi di Asia Tenggara, dimana tiga dari sepuluh anak terserang pneumonia setiap tahunnya.

Di Indonesia, pneumonia (radang paru-paru) merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah kardiovaskuler dan TBC. Faktor sosial ekonomi yang rendah mempertinggi angka kematian pneumonia. Kasus pneumonia ditemukan paling banyak menyerang anak balita. Menurut laporan WHO, sekitar 800.000 hingga 1 juta anak meninggal dunia tiap tahun akibat pneumonia.

Akibat sistem pelayanan dan penanganan yang terbatas, hanya 30% yang berhasil mendapatkan antibiotik yang dibutuhkan dari semua anak yang terserang.

Pneumonia adalah sebuah penyakit pada paru-paru dimana pulmonary alveolus (alveoli) yang bertanggung jawab menyerap oksigen dari atmosfer meradang dan terisi oleh cairan.

Klasifikasi Pneumonia (Radang Paru)
Secara umum, pneumonia dapat dikategorikan menjadi empat jenis.
Pertama, pneumonia akibat lingkungan karena penyakit ini tersebar dalam satu komunitas yang luas. Jenis ini umumnya disebabkan oleh bakteri pneumococci, bakteri mycoplasma, atau virus influenza.

Kedua, pneumonia rumah sakit yang, sesuai namanya, biasa diperoleh di rumah sakit. Jenis ini memiliki jumlah penyebab potensial yang jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan pneumonia yang berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Selanjutnya, pneumonia aspirasi yang diakibatkan oleh bakteri yang terhirup oleh paru-paru, biasanya bermula dari isi lambung masuk ke dalam paru-paru setelah seseorang muntah. Penyebab lainnya berhubungan dengan gangguan saat menelan makanan.

Dan yang keempat adalah pneumonia karena organisme oportunitis yang umumnya menyerang seseorang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Organisme oportunitis itu tidak akan merugikan mereka yang memiliki badan sehat, namun akan sangat berbahaya bagi penderita AIDS, anemia sickle cell, dan kondisi lain yang berhubungan dengan gangguan sistem imun tubuh. Mengonsumsi obat-obatan yang menekan sistem tubuh manusia, misalnya kortikosteroid atau kemoterapi, juga berkontribusi meningkatkan risiko infeksi oportunitis ini.

Penyebab Pneumonia (Radang Paru)
Pneumonia adalah radang paru-paru, biasanya disebabkan oleh infeksi. Tiga penyebab umum pneumonia adalah bakteri, virus dan jamur. Pneumonia juga dapat disebabkan oleh menghirup cairan atau bahan kimia. Pnemonia aspirasi (atau inhalasi) adalah pembengkakan dan iritasi paru-paru yang disebabkan oleh asap dari bahan kimia seperti semprotan serangga, pembersih kolam renang, bensin, atau zat lain.

WHO juga memperkirakan bahwa sampai dengan 1 juta ini (vaksin dicegah) kematian yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus''''pneumoniae, dan lebih dari 90% dari kematian ini terjadi di negara-negara berkembang. Kematian akibat pneumonia umumnya menurun dengan usia sampai dewasa akhir. Lansia individu, bagaimanapun, berada pada risiko tertentu untuk pneumonia dan kematian terkait. Karena beban yang sangat tinggi penyakit di negara berkembang dan karena kesadaran yang relatif rendah dari penyakit di negara-negara industri, komunitas kesehatan dunia telah menyatakan untuk November 2 Hari Pneumonia Dunia, sehari untuk warga yang prihatin dan pembuat kebijakan untuk mengambil tindakan terhadap penyakit.

Faktor Risiko Pneumonia (Radang Paru)
Faktor risiko utama untuk pneumonia pada balita antara lain:
Polusi rumah tangga, seperti memasak dengan kayu bakar
Kepadatan rumah yang tinggi
Orangtua yang merokok di sekitar anak
Status imunisasi yang buruk
Malnutrisi pada anak

Gejala Pneumonia (Radang Paru)
Gejala pneumonia bervariasi, mulai dari pernapasan yang cepat sampai kegagalan pernapasan dan tekanan darah yang sangat rendah atau dikenal dengan istilah syok septik. Jika pneumonia terjadi setelah bayi lahir, gejalanya akan timbul secara bertahap. Terkadang bayi tiba-tiba menjadi sakit yang disertai dengan turun-naiknya suhu tubuh.


Namun, umumnya gejala pneumonia adalah demam, batuk, sesak napas, serta napas dan nadi cepat. Seperti gejala penyakit standar, bukan? Ya, itu sebabnya Anda harus memastikan dengan meminta diagnosa dari dokter anak.

 
 
 
 
Pencegahan Pneumonia (Radang Paru)
Pneumonia dapat dicegah dengan cara-cara yang relatif mudah, yaitu :
Menjamin anak diimunisasi HIB, Pneumococcus, Pertusis, serta Campak : Pneumonia pada anak dapat dicegah melalui pemberian vaksin. Vaksin tersebut diberikan pada anak mulai usia 2 bulan. Karena resiko pneumonia yang tinggi, terutama pada bayi prematur, bayi prematur perlu diberikan treatment secara berkala untuk mencegah infeksi virus RSV, yang seringkali menyerang bayi. Biasanya, dokter memberikan antibiotik untuk mencegah pneumonia bagi anak-anak yang telah bersinggungan dengan penderita pneumonia. Beberapa obat antivirus kini juga telah tersedia untuk mencegah infeksi virus penyebab pneumonia atau meringankan gejala pneumonia.
Menjaga status nutrisi anak, salah satunya dengan menjamin pemberian ASI ekslusif dan pemberian suplemen vitamin A pada usia balita : Memberikan asupan makanan yang sehat juga menjadi upaya untuk menghindarkan pneumonia pada anak. Makanan yang sehat dan menyehatkan akan meningkatkan ketahanan tubuh dari serangan patogen. ASI eksklusif dan suplai zat besi yang cukup pada anak dapat meminimalisir resiko anak meninggal karena pneumonia.
Mengurangi polusi di rumah tangga
Menjaga higiene dengan mencuci tangan dengan sabun dan pembuangan kotoran anak secara aman
Menghindari anak dari asap rokok

Orangtua dan tenaga kesehatan harus mampu mendeteksi gejala dengan dini dan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan untuk pemberian antibiotik (apabila pneumonia disebabkan oleh bakteri) dan penanganan kegawatdaruratan yang penting untuk menyelamatkan nyawa anak.

Pengobatan Tradisional Pneumonia (Radang Paru) dengan Tahitian Noni Bioactive Beverage
Patent Terapi yang berhubungan dengan Penyembuhan Pneumonia ada di beberapa Patent Terapi tersebut ini :
Berikut daftar hak paten yang telah di Perolah Tahitian Noni (Morinda Bioactive) :

A. EFEK FISIOLOGIS XERONIN DAN ANTIOKSIDAN
  1. Xeronine: Alkaloid yang bermanfaat dalam bidang kedokteran, makanan dan industri : Mempertahankan Homoestasis dan aneka efek terapeutik. USPTO 4,543,212
  2. Uji Antioksidan TNBB: Aktifitas antioksidan TNBB signifikan meneutralisir terhadap SAR dan LPO tubuh (Radikal Bebas). SAR dan LPO mungkin diproduksi secara berlebihan di dalam tubuh sehingga mempengaruhi fungsi dan reproduksi seluler, atau merusak biomolekul sel sebagai awal terjadinya penyakit degeneratif, kanker, metabolik dan lain-lain. USPTO 60/251417
  3. Mereduksi Kerusakan Seluler didalam Tubuh Manusia: TNBB dapat me-Refungsionalisasi sel yang positif (Absorsi sel terhadap nutrisi yang bermanfaat dan regenerasi seluler), menstimulasi produksi sel Limfosit T dapat meningkatkan respon imun untuk mencegah infeksi, membunuh sel kanker atau sel yang terinfeksi virus, membersihkan radikal bebas (SAR,LPO,HPETEs). Meningkatkan pertahanan terhadap stress oksidatif (kerusakan protein, karbohidrat , lipid, dan DNA tubuh) sehingga dapat mereduksi kerusakan struktur dan fungsi seluler (mencegah inisiasi/implikasi terjadinya penyakit). WO 02/43664 A2
  4. Efek Inhibisi dan Preventive hasil olahan Morinda Citrifolia L, terhadap mutagenesis dan karsinogenesis pada mamalia: Morinda Citrifolia L dapat menurunkan frekuensi mutasi sel secara kumulativ (mutasi akibat bakteri, obat/antibiotik, mutasi penyebab kanker, penyakit genetik dan aging) Naturaseutikal Morinda Citrifolia L dapat memperbaiki kerusakan DNA pada kasus kanker atau penyakit kronis lainnya. Dan dapat mencegah mutasi akibat gangguan fungsi enzim sitokrom yang dipicu pemakaian obat. USPTO 20030157205
B. ANTINEOPLASTIK
  1. Efek Preventif Morinda Citrifolia L terhadap Kanker: Radikal bebas SAR dan LPO dapat merusak lipid, protein dan DNA penyusun struktur sel tubuh. Akibatnya terjadi perubahan fungsi atau reproduksi sel, bahkan kematian sel. TNBB berfungsi memproteksi sel akibat inefisiensi pertahanan (sistem enzim antioksidan) pada kasus kanker WO/2002/045654
  2. Formula dasar Morinda Citrifolia L untuk Meng-inhibisi Metastasis Sel-Sel Karsinogenik: Mekanisme antiadesi memungkinkan mencegah ikatan sel-sel malignan, mencegah adesi migrasi, oraganisasi sitoskeleton WO/2004/098514
  3.  Efek Antiangiogenesis Morinda Citrifolia L : Formula ini dapat memblok pembetukan pembuluh darah baru di area tumor dengan cara menginhibisi elongase pembuluh dan migrasi sel endotel. Dan akhirnya dapat menghambat metastasis sel kanker WO/2004/041186
  4.  Inhibisi Angiogenesis dan Destuksi Pembuluh Angiogenik dengan Morinda Citrifolia L: sangat efektif untuk mentritment kanker dan penyakit non kanker yang ditandai respon peningkatan angiogenesis, seperti retinopati prematur, neovaskularisasi glaukoma, retinopati diabetes, arthritis reumatoid dan psoriasis WO/2003/020296
  5. Formula dasar Morinda Citrifolia L untuk menginhibisi enzim Matriks Metalproteinase: sebagai Anti Degradasi ECM berlebihan (Matriks Extraseluler) Kasus Morfogenesis jaringan, pospartum involusi, angiogenesis, arthritis rheumatoid, ostheoarthritis, ruptur plak aterosklerosis, aneurisma aorta, periodontitis, pelepuhan kulit akibat Autoimmune, dermal foto-aging, invasi tumor dan terutama metastasis tumor.USPTO 20070184137
  6. Ekstrak Noni untuk Pencegahan Penyakit (Kanker): Komposisi ini disajikan dari ekstrak pulp buah noni, ekstrak butanol dari buah noni mengandung komponen glikosida aktif yang bermanfaat untuk prevensi dan tritmen berbagai penyakit (terutama kanker) USPTO 20030004116
  7. Sinergitas Efek Prefentive Morinda Citrifolia L terhadap Kanker : Kombinasi Morinda Citrifolia L dan MSM (Metilsulfonilmetan) mampu menginhibis karsinogenesis tahap awal yang sinergis, bila diaplikasikan pada pasien kanker payudara secara alami, efektif, ekonomis, tanpa disertai toksisitas penggunaan dalam jangka panjang, serta untuk pemulihan sel-sel kelenjar mamari dari karsinogenesis USPTO 04/29896
  8. Efek Preventif dan Tritmen Morinda Citrifolia L sebagai Inhibitor Aromatase : Penemuan ini difokuskan untuk mentritmenn kanker dependen estrogen (menghinhibisi. mendestruksi, me-reverse sel-sel kanker ) seperti kanker payudara, kanker uterus, kanker ovarium. USPTO 10/396868
  9. Efek Preventif Morinda Citrifolia L terhadap Kanker Payudara: Morinda Citrifolia L merupakan alternatif metode non-invasif untuk menginhibisi dan prevensi metastasis sel-sel karsinogenik di area kelenjar mamari serta mendestruksi sel kanker payudara yang telah bermetastasis. WO/2005/048919
  10. Metode Mentritmen Kerusakan Liver yang di induksi oleh Karbon Tetraklorida atau kondisi sejenis (adiksi alkohol dan hepatitis C) melalui aplikasi Morinda Citrifolia: Regenerasi jaringan sel di Liver sangat dibutuhkan, karena Liver berfungsi dalam metabolisme karbohidrat dan penyimpanan glikogen lipid (Kolesterol dan vitamin tertentu), protein, manufaktur empedu, menyaring toksin dalam darah, memproduksi faktor pembekuan darah, memproses sel darah merah yang rusak dan berperan dalam imunitas. jika perkembangan penyakit liver dengan tidak dapat di imbangi perbaikan regenerasi jaringan , maka fungsi metabolisme gagal. USPTO 20030086990
  11. Efek Preventif dan Tritmen Morinda Citrifolia L, sebagai Inhibitor Pertumbuhan Sel Kanker Kolon: Morinda Citrifolia L sebagai preventif dan tritment, inhibisi, mereduksi pertumbuhan sel kanker kolon serta mendestruksi sel kanker pada tahap awal di area kolon. Destruksi sel kanker tahap awal bertujuan untuk membunuh sel-sel kanker yang tumbuh di permukaan dalam kolon dan di dua lapisan pertama dinding kolon. Terapi konvensional untuk kanker tahap ini umumnya pembedahan (reseksi) atau pengangkatan area karsinogenesis. Sinergis dengan efek obat kemoterapi, tanpa memicu efek samping yang negatif. USPTO 7070813
C. ANTIINFLAMASI, ANTIALERGI, ANTINOSISEPTIF
  1. TNBB terhadap COX-1 dan COX-2 serta TNBB sebagai Inhibitor Selektif COX-2: sebagai anti inflamasi mengatasi berbagai kasus inflamasi akut dan kronik akibat ekspresi COX-2 berlebihan, untuk mentritmen demam, peradangan sendi, nyeri punggung dan leher, dismenorhea, keseleo dan kram otot, arthritis, termasuk degeneratif sendi (osteroarthritis), melindungi lambung, dan mempertahankan fungsi ginjal. TNBB dalam memblok COX-2 hampir setara dengan Obat inhibitor selektif COX-2, dengan keunggulan lebih aman dan praktis dalam penggunaannya, tanpa memicu efek samping penggunaan dalam jangka panjang. WO/2002/045734
  2. Formula Dasar Morinda Citrifolia L, untuk meng-inhibisi 5-LOX dan 15-LOX: Komposisi naturaseutikal Morinda Citrifolia L, dapat diaplikasikan untuk mentritmen, menginhibisi dan mencegah berbagai penyakit inflamasi (Asma, Artritis, Psoriasis, penyakit saluran kemih) dengan cara memblok lipooksigenase sehingga meregulasi produksi leukotrien WO/2005/120538
  3. Inhibisi Siklooksigenase dan Lipoksogenase : Formula Morinda Citrifolia L dalam mencegah dan mentritmen kanker dan kasus inflamasi (terutama individu diet tinggi lemak) dan secara sinergis dapat menginhibisi kelebihan enzim COX2, 5-LOX, 15-LOX (yang merupakan inisiator berbagai kasus kanker kolon, payudara, paru-paru dan lambung dan lain-lain) WO/2008/067410
  4. Komposisi Dasar Morinda Citrifolia L, untuk menyembuhkan Penyakit Inflamasi dengan cara menginhibisi COX-1, COX2, Interleukin -1, interleukin -6, TNF-a, HLE dan iNOS : Morinda Citrifolia L sebagai preventive dan tritmen penyakit Inflamasi, termasuk penyakit Infeksi, kanker kulit, nekrosis tumor, arthritis rheumatoid, sirosis alkoholik, lupus erithematosus, karsinoma, infeksi mikroba, parasit, crohn, emfisema pulmonal, kistik fibrosis, bronkhitis kronis, sindrom distres respirasi akut (ARDS), glomerulonefritis, Iskhemia serebal, syok septik, disfungsi miokadium, dan gangguan curah jantung) WO/2007/076024
  5. Komposisi dan Metode dasar Morinda Citrifolia L, untuk meng-inhibisi Xantin Oksidase: preventiv dan tritment terhadap penyakit yang berhubungan dengan kelebihan asam urat (mampu meningkatkan fungsi ginjal, mencegah hiperuresemia, dan meningkatkan fungsi jaringan penunjang) WO/2006/050012
  6. Efek Preventif dan Tritmen Morinda Citrifolia L, terhadap Osteoartritis dan kondisi sejenisnya : Formula naturaseutikal Morinda Citrifolia L dapat dimanfaatkan untuk mengurangi, mencegah dan menghambat degeneratif pada kartilago, terutama degenerasi protein penyusun kartilago. Selain itu, formula ini dapat dipakai untuk mengobati gejala yang serupa osteoarthritis atau untuk meningkatkan efikasi manajemen farmaseutikal osteoarthritis yang sudah ada. USPTO 7,033,624
  7. Metode dan Formula untuk Meng-inhibisi Fosfodiesterase secara alami : Formula naturseutikal Morinda Citrifolia L mampu meningkatkan kapasitas tubuh untuk menginhibisi enzim PDE (mereduksi reaksi alergi, serangan asma dan meningkatkan energi ) dalam kondisi patologis, tanpa disertai efek samping yang negatif USPTO 20070248701
D.ANTI (FUNGAL, BAKTERIAL, VIRAL, dan MIKROBIAL)
  1. Efek Antifungal dan Antibakterial Morinda Citrifolia L : Kandungan Etanol. Metanol dan Etil Asetat didalam Morinda Citrifolia L, terbukti memilki aktifitas antimikrobial ketika diuji melawan bakteri dan jamur patogen (S.aureus, E.coli, C.albicans, T.Mentagrophytes dan A.Niger) WO/2003/099310
  2. Formulasi Jus Puree Morinda Citrifolia L, untuk Meng-inhibisi Pertumbuhan Fungal dan Mikrobial : Penelitian efek letal terhadap mikroba, efek antialergi, efek neutralisasi toksin/antigen, efek anti inflamasi dan efek induksi respon imun, dapat mencegah, menghambat, membunuh jamur atau bakteri patogen, ini ditujukan kepada terapi imunokompromis, terapi infeksi jamur/bakteri dan aplikasi sistem pertanian organik. USPTO 7,048,952
  3. Metode dan Formula Morinda Citrifolia L untuk Menyembuhkan Kandidiasis: Morinda Citrifolia dapat meng-inhibisi atau mencegah pertumbuhan jamur kandida, dan untuk menyembuhkan kandidiasis atau gejala yang sejenisnya. Kandidiasis sangat berbahaya untuk penderita Kanker, Leukemia/kandidiasis hepatosplenik, dan kandidiasis endokarditis. Dan dapat diaplikasikan untuk prevensi resiko kandidiasis pada pasien yang menjalani terapi hormonal, kortikosteroid, kontrasepsii tinggi estrogen, terapi kanker atau HIV, diabetes, gangguan endokrin, tiroid serta infeksi via plasenta. USPTO 7,014,873
  4. Formula Dasar Morinda Citrifolia L, untuk regulasi Imunomodulasi Sel T pada Stok Hewan Neonatal : WO/2009/032851
  5. Formula Dasar dan Metode Aplikasi Morinda Citrifolia L sebagai Antiviral: Morinda Citrifolia L dapat menginhibisi dan mentritment serta prevensi terhadap penyakit yang berhubungan dengan kelebihan enzim Katepsin, Peptidase HIV-1 dan enzim NF-kB. Sebagai manajemen infeksi AIDS, Kanker, Autoimmune dan Degenerative. WO/2007/064601
  6. Formula dan Metode untuk Inhibisi Anaerobik, Bakteri Gram Negatif, Protozoa, dan Pertumbuhan Mikroba lainnya dengan Formula Morinda Citrifolia L : WO/2009/006565
  7. Komposisi Fitonutraseutikal yang Bekerja Sinergis terhadap penyakit HIV/AIDS dan Autoimmune: Morinda Citrifolia L dapat berfungsi sebagai biointelijen dalam proses penyembuhan imunokompromis atau Autoimmune, selain bekerja meningkatkan energi dan memproteksi sel atau jaringan. Dapat juga mengurangi efek samping dari obat medis/sintetis dan mendatangkan efikasi yang optimal. Semua pasien yang diterapi dengan kombinasi tersebut 94.59 % mengalami peningkatan perbaikan gejala klinik dan kualitas hidup USPTO 7.604,823
E. TERAPI NEURODEGENERATIF, DEPRESI dan ADIKSI
  1. Metode dan Komposisi untuk Meng-inhibisi Monoamin Oksidase dan Katekol – O -Metiltransferase : kedua enzim tersebut berperan dalam oksidase dan metilasi neurotransmiter terutama untuk biosintesis Dopamin, Epinefrin, dan Norepinefrin serta Serotonin. Morinda Citrifolia L dapat mempertahankan fungsi koordinasi sistem saraf (mengatasi neurodegeneratif dan gangguan neurologi ) pada kasus parkinson, depresi, alzeimer dan sejenisnya. WO/2005/086937
  2. Metode dan Komposisi untuk mereaktivasi Asetilkolinesterase : Morinda Citrifolia L dapat diaplikasikan untuk mentritmen pasien yang mengalami gangguan aktivitas kolinesterase akibat inhibisi tabun, sarin, VX, orgnofosfat dan agen kimia sisa peperangan. WO/2005/086834
  3. Formula dan Metode Naturaseutikal untuk penyembuhan dan Prevensi Sakit Kepala Migrain: Kandungan bioaktif Xeronin dalam TNBB memiliki efek neuroproteksi dan fungsionalisasi berbagai protein vaskuler. Mampu mencegah abnormalisasi lepas muatan listrik di sistem trigeminovaskuler dan mencegah vasonkonstriksi, serta mencegah pengaruh penurunan kadar serotonin sewaktu serangan migrain. Serotonin merupakan neurotransmiter yang berperan dalam komunikasi antara otak dan tubuh secara keseluruhan. Kadarnya menurun ketika terjadi serangan migrain sehingga memicu terjadinya nyeri migrain USPTO 20030108630
  4. Metode penyembuhan Gangguan Penglihatan dengan Aplikasi Propllaktik Naturaseutikal Dasar Morinda Citrifolia L: dengan di minumkan dan diteteskan di mata untuk kasus galukoma, retinopati diabetes, retinitis pigmentosa, katarak dan degenerasi makular USPTO 20030134002
  5. Antagonis Reseptor Asetikolin Nikotinik: Morinda Citrifolia L diapikasikan untuk tritment, dan mencegah komplikasi gangguan primer aktivitas nAchRs, serta inhibisi dan prevensi adiksi produk tembakau atau nikotin. Dapat meningkatkan efektivitas manajemen antagonis reseptor asetilkon nikotinik pada pasien adiksi nikotin dengan cara mengeliminasi efek samping obat ketika bekerja pada nAchR dan kandungan Xeronin efektif untuk tritmen pasien adiksi rokok dan obat-obatan, tanpa disertai ketegangan USPTO 20060280818
  6. Formula dan Metode untuk Prevensi dan Mentritmen Penyalahgunaan Obat dan Adiksi: USPTO 20070166416
  7. Pemanfaatan Komposisi Morinda Citrifolia L: untuk terapi Tinitus ditingkatkan dengan komposisi likopen, vitamin C, koenzim Q10 dan Glinggo biloba, hasil uji klinik terhadap pasien pria lansia 87 thn yang mengalami serangan tinitus hebat selama beberapa tahun terakhir, memperlihatkan efek terapeutik Morinda Citrifolia L, dosis 30 ml/hari selama 3 bulan, ditandai dengan penurunan gangguan kebisingan sebesar 75% dari durasi harian dan intensitas maksimal kebisingan juga menurun secara signifikan. Setelah 5 bulan menjalani terapi tersebut. Serangan kebisingan hanya terjadi sesekali. WO/2001/064231
  8. Inhibisi Diston Deasetilase (HDAC) dan Enzim Pengkonversi Faktor Nekrosis Tumor (TACE): Morinda Citrifolia sebagai prevensi dan tritmen neurodegenerative dan inflamasi kronis (penyakit Hutington, arthritis rhematoid atau kondisi sejenisnya) sehingga gejala penyakit itu tereduksi atau tereliminasi tanpa resiko efek samping apapun. EP1726309
F. METABOLISME dan INDUKSI FUNGSI REPRODUKSI
  1. Diabetes Tipe II: Morinda Citrifolia L didalam TNBB dapat mentritment dan prevensi diabetes, serta memiliki efek antidiabetes pada tingkat molekuler dengan cara memulihkan homeostasis insulin. Terutama perbaikan kerusakan sel-sel beta pankreas.WO/2005/067489
  2. Efek Prefentif dan Tritmen Morinda Citrifolia L terhadap Diabetik dan Kondisi Sejenisnya dengan cara: Menyeimbangkan output insulin dan transfer glukosa, menurunkan sintesis glukosa di liver, meningkatkan akselesari metabolisme glukosa, inhibisi absorbsi glukosa di saluran cerna, memperbaiki sel-sel beta pankreas yang tidak berfungsi, menekan reaksi autoimmune terhadap sel-sel beta pankreas dan mencegah dan meredam efek samping yang disebabkan oleh obat diabetes ( hipoglikemi, gangguan lambung, ruam kulit, gatal-gatal, berat badan bertambah, gangguan ginjal, lesu pusing serta diare) USPTO 20070178181
  3. Mentritmen Glaukoma dan Retinopati Diabetes dengan formula Morinda Citrifolia L: Hasil uji klinik pada pasien retinopati diabetes, katarak, alergi/iritasi mata dapat menginhibisi proliferasi pembuluh darah baru di retina, mencegah kebocoran vaskular dan pendarahan pada retina/makula, pasien retinopati diabetes melaporkan terjadi peningkatan (jelas) pandangan yang sebelumnya kabur sebagai implikasi ameliorasi katarak. Begitu juga dengan alergi dan iritasi mata, hasilnya positif sebagai tetes mata WO/2008/098211
  4. Diet Serat Morinda Citrifolia L: Produk olahan Morinda Citrifolia L dalam TNBB selain lebih dari 230 kandungan nutrisi dan bioaktif juga sangat kaya akan serat, protein, vitamin dan mineral, sehingga sangat potensial untuk keluhan metabolisme dan fungsi cerna. Studi epidemiologi membuktikan bahwa kelompok orang yang yang terbiasa mengkonsumsi serat makanan memiliki insiden divertikulitas, kanker kolon, diabetes melitus dan penyakit arteri koroner yang lebih rendah.WO/2001/015551
  5. Formula dan Metode Morinda Citrifolia L, untuk Manajemen Berat Badan: Obesitas merupakan jalan terjadinya penyakit diabetes II, hipertensi, stroke, penyakit arteri koroner, dan berbagi jenis kanker. TNBB mempercepat metabolisme yang memungkinkan setiap individu dapat membakar lebih banyak lemak tubuh dalam berolahraga dan dapat menghentikan kebiasaaan makan berlebihan, menurunkan nafsu makan yang seimbang, dan menghambat penyerapan kolesterol ke dalam darah serta mereduksi deposit kolesterol pada obesitas dan komplikasinya WO/2007/064547.
  6. Metode dan Komposisi untuk Mereduksi Oksiterol Darah : mekanisme antioksidan, antiinflamasi, antidegenerasi, dan induksi NO sangat signifikan menurunkan tekanan darah menjadi seimbang, menurunkan trigliserida, LDL, lipid peroksida, dan meningkatkan HDL WO/2002/056899
  7. Meningkatkan Profil Lipid Protein dan Mereduksi HMG-KoA Reduktase: merupakan mekanisme penting dalam biosintesis kolesterol, khususnya menurunkan kadar kolesterol plasma untuk mencegah aterosklerosis, meregulasi endotelial nitrit oksida sintase (eNOS) untuk memblok kaskade plak dan injuri serebral dalam kasus stroke iskhemia dan menurunkan kadar LDL untuk mencegah kardiovaskuler WO/2005/069844
  8. Metode dan Komposisi untuk menginhibisi Enzim Pengkonversi Angiotensin (ACE) dan Shimase: Morinda Citrifolia L dapat mecegah vaskontriksi akibat pengaruh ACE, serta menurunkan kadar garam, sedangkan inhibisi Shimase bermanfaat untuk survival kasus infark miokardium, remodelling karidiovaskuler dan proteksi dari injuri kardiovaskuler, tanpa memicu efek samping. WO/2005/086935
  9. Inhibisi Produksi Estrogen Secara Selektif dan Efek Kontrol Estogenik didalam Tubuh Manusia : Morinda Citrifolia L dapat diaplikasikan untuk terapi pemulihan hormon dan untuk mentritmen atau prevensi berbagai penyakit dependen estrogen WO/2004/091545
  10. Pemanfaatan Ekstrak Morinda Citrifolia L dalam Spermatologi dan Metode untuk meningkatkan Preservasi Sperma: mampu menurunkan derajat kerusakan membran dan jumlah spermatozoa yang rusak dan menghasilkan materi inseminasi yang lebih berkualitas WO/2008/032132
  11. Komposisi untuk Meningkatkan Kadar Hormon : Morinda Citrifolia dapat menstimulasi produksi hormon, seperti testosteron dan hormon pertumbuhan pada pria WO/2005/084681
  12. Aplikasi Morinda Citrifolia L, untuk Meningkatkan Angka Kelahiran: memperbaiki kualiatas Sperma , meningkatkan dan mempertahankan ereksi , meningkatkan libido, dan mengembalikan masalah kesuburan pria dan wanita WO/2008/106405.
G. PERAWATAN GIGI-MULUT dan TERAPI DERMATOLOGI
  1. Komposisi dan Metode Dasar Morinda Citrifolia L untuk Perawatan Gigi-Mulut : dapat mencegah penyakit gusi dan karies, meningkatkan densitas kolagen, mereduksi plak dan aktivitas bakteri, meningkatkan respirasi seluler, menginhibisi aptus ulkus, menghilangkan noda geligi, mereduksi halitosis, serta memelihara kesehatan gigi dan mulut WO/2005/030141
  2.  Pemanfaatan Noni untuk Patologi Mulut seperti Mengatasi Masalah yang Berhubungan dengan Asialia dan Hiposialia : Penelitian Dr Ralph Heinicke memperlihatkan efikasi noni sebagai antibakterial untuk kasus defisiensi sekresi kelenjar saliva, yang berhubungan dengan Asialia dan Hiposialisa WO/2005/018655
  3. Metode dan Komposisi Morinda Citrifolia L untuk Mentritmen Gangguan Dermatologi : mencakup kulit kering, ketombe, kutil, jerawat, kerapuhan rambut, infeksi kuku, kertosis, psoriasis, eksim, pruritus, noda penuaan, kurang lembab, vena laba-laba, purpura senil, lentiginis, melasmas, guratan kulit, bisul, mengkerut, atrofi, impetigo, lesi prakanker, hiperpigmentasi, hiperkeratotik dan inflamasi dermatosis USPTO 20030091666
  4. Kosmetik Perbaikan Serum secara intensif dengan Morinda Citrifolia L: dapat diaplikasikan sebagai formula anti aging dan serum perawatan kulit (merevitalisasi, melembutkan melembabkan dan mengecangkan kulit) dikombinasikan dengan bahan alami lainnya yang mendatangkan efek serum perawatan dan tritmen kulit USPTO 6589514
  5. Morinda Citrifolia L Meningkatkan Tritmen Bibir: dapat merevitalisasi dan menghaluskan bibir, melembabkan bibir, memproteksi dan menyembuhkan bibir pecah-pecah, mereduksi gejala kerusakan dan penuaan bibir, mengatasi efek negatif elemen lingkungan dan mensuplay nutrisi yang menyehatkan bibir. USPTO 20030086989
H. KOMPOSISI JUS TERAPEUTIK dan PALIATIF
  1. Komposisi Jus Terapeutik untuk Wanita: Wanita yang akan memasuki usia pertengahan (35 tahun ke atas) sangat rentan mengalami berbagai masalah kesehatan seperti Hot Flash, keringat malam, perubahan mood, insomnia, dan keletihan. Keluhan tersebut berhubungan dengan defisiensi hormon yang dapat bermuara pada perubahan kualitas hidup. Manfaat TNBB mancakup : Anti Aging, mengatasi gejala PMS dan Menopouse, membentuk densitas tulang dan kartilago, menyehatkan kardiovaskular, mengatasi kulit memar atau mengkerut, merampingkan tubuh, serta berbagai gejala defisiensi atau kelebihan hormon (estrogen) pada wanita USPTO 20070122502.
  2. Formula Dasar, Daun & Ekstrak Daun Morinda Citrifolia WO/2007/064521
  3. Metode Komposisi Komponen Bioaktif Morinda Citrifolia WO/2007/134205
  4. Efek Paliatif Minyak Ikan dan Jus Morinda Citrifolia WO/2002/083159