Efek Blog
Showing posts with label Penyakit Auto-Immune. Show all posts
Showing posts with label Penyakit Auto-Immune. Show all posts

Tuesday, 2 December 2014

PENGOBATAN ALTERNATIF PENYAKIT AUTOIMMUNE. SISTEMA LUPUS ERIMATOSUS (SLE)/ PENYAKIT SERIBU WAJAH

Kata lupus dari bahasa latin yang bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti “Anjing Hutan”. Istilah ini mulai dikenal satu abad silam.

LUPUS adalah Peradangan kronis yang terjadi ketika sistem imun tubuh menyerang organ dan jaringan tubuh. Peradangan yang disebabkan oleh lupus dapat berefek pada berbagai sistem di dalam tubuh, antara lain sendi, kulit, ginjal, sel darah, jantung dan paru-paru.

Insidensi
Penyakit yang mematikan setara dengan kanker. Tidak sedikit pengindap penyakit ini tidak tertolong lagi, di dunia terdeteksi penyandang penyakit Lupus mencapai 5 juta orang, lebih dari 100 ribu kasus baru terjadi setiap tahunnya.
Penyakit ini dapat mengenai semua lapisan masyarakat, 1-5 orang di antara 100.000 penduduk, bersifat genetik, dapat diturunkan. Wanita lebih sering 6-10 kali daripada pria, terutama pada usia 15-40 tahun. Bangsa Afrika dan Asia lebih rentan dibandingkan kulit putih. Dan tentu saja, keluarga Odapus. Timbulnya penyakit ini karena adanya faktor kepekaan dan faktor pencetus yaitu adanya infeksi, pemakaian obat-obatan, terkena paparan sinar matahari, pemakaian pil KB, dan stres,” ujarnya. Penyakit ini justru kebanyakaan diderita wanita usia produktif sampai usia 50 tahun sekalipun ada juga pria yang mengalaminya. Oleh karena itu dianggap diduga penyakit ini berhubungan dengan hormon estrogen.

Patofisiologi
Tubuh memiliki kekebalan untuk menyerang penyakit dan menjaga tetap sehat. Namun, dalam penyakit ini kekebalan tubuh justru menyerang organ tubuh yang sehat. Penyakit Lupus diduga berkaitan dengan sistem imunologi yang berlebih. Dalam tubuh seseorang terdapat antibodi yang berfungsi menyerang sumber penyakit yang akan masuk dalam tubuh. Uniknya, penyakit Lupus ini antibodi yang terbentuk dalam tubuh muncul berlebihan. Hasilnya, antibodi justru menyerang sel-sel jaringan organ tubuh yang sehat. Kelainan ini disebut autoimunitas. Antibodi yang berlebihan ini, bisa masuk ke seluruh jaringan dengan dua cara yaitu :

Pertama, antibodi aneh ini bisa langsung menyerang jaringan sel tubuh, seperti pada sel-sel darah merah yang menyebabkan selnya akan hancur. Inilah yang mengakibatkan penderitanya kekurangan sel darah merah atau anemia.
Kedua, antibodi bisa bergabung dengan antigen (zat perangsang pembentukan antibodi), membentuk ikatan yang disebut kompleks imun.Gabungan antibodi dan antigen mengalir bersama darah, sampai tersangkut di pembuluh darah kapiler akan menimbulkan peradangan. Dalam keadaan normal, kompleks ini akan dibatasi oleh sel-sel radang (fagosit) Tetapi, dalam keadaan abnormal, kompleks ini tidak dapat dibatasi dengan baik. Malah sel-sel radang tadi bertambah banyak sambil mengeluarkan enzim, yang menimbulkan peradangan di sekitar kompleks. Hasilnya, proses peradangan akan berkepanjangan dan akan merusak organ tubuh dan mengganggu fungsinya. Selanjutnya, hal ini akan terlihat sebagai gejala penyakit. Kalau hal ini terjadi, maka dalam jangka panjang fungsi organ tubuh akan terganggu.

Jenis Penyakit Lupus
Ada empat jenis, yaitu :
1. Lupus -systemic lupus erythematosus,
Systemic lupus erythematosus adalah yang paling umum dan paling serius, menyerang organ tubuh seperti kulit, persendian, paru- paru, darah, pembuluh darah, jantung, ginjal, hati, otak dan syaraf.

2. Discoid lupus erythematosus (Cutaneus Lupus)
Lupus ini berefek hanya pada kulit. Mereka dengan lupus discoid mengalami ruam pada wajah, leher dan kulit kepala.
Sejumlah kecil mereka dengan discoid lupus juga dapat mengalami systemic lupus erythematosus, meskipun tidak mungkin untuk memprediksi siapa saja yang akan mengalami bentuk lupus yang lebih serius.

3. Drug-induced lupus erythematosus (DIL)
Lupus ini terjadi setelah anda menggunakan obat tertentu. Tidak semua orang yang menggunakan obat tersebut mengalami lupus. Lupus jenis ini berefek pada berbagai sistem di dalam tubuh. Tanda dan gejala biasanya hilang ketika anda berhenti menggunakan obat yang menyebabkan lupus jenis ini terjadi.

4. Neonatal lupus. Merupakan bentuk langka dari lupus yang berefek pada bayi yang baru lahir. Ibu degan antibody tertentu yang memiliki hubungan terhadap penyakit autoimun dapat menurunkannya pada bayi mereka –bahkan jika sang ibu tidak memiliki tanda maupun gejala penyakit autoimun tersebut. Neonatal lupus dapat hilang sebelum menunjukkan perkembangannya. Dalam kasus yang lebih serius dapat menyebabkan masalah pada sistem elektrik jantung (congenital heart block).

Penyebab (etiologi) Penyakit Lupus
Penyebab dari penyakit SLE belum diketahui dengan pasti. Selain factor keturunan (genetis) dan hormon, diketahui bahwa terdapat beberapa hal lain yang dapat menginduksi SLE, diantaranya adalah virus (Epstain Barr), obat (contoh : Hydralazin dan Procainamid), sinar UV, dan bahan kimia seperti hidrazyn yang terkandung dalam rokok, mercuri dan silica.

Hormon estrogen dapat meningkatkan ekspresi system imun, sedangkan androgen menekan ekspresi system imun. Hal ini menjelaskan mengapa SLE cenderung lebih banyak terjadi pada wanita dibanding pria. virus (Epstain Barr), obat obatan, dan bahan kimia dapat menyebabkan produksi antinuclear antibody (ANA) yang menjadi salah satu autoantibodi. Bagaimana sinar matahari dapat menyebabkan SLE masih belum dapat dimengerti sepenuhnya. Salah satu penjelasan adalah DNA yang tekena sinar UV secara normal akan bersifat antigenic, dan hal ini akan menimbulkan serangan setelah terkena paparan sinar.

Penyebab utama terjadinya SLE adalah karena produksi antibody dan pembentukan kompleks imun yang abnormal, sehingga dapat terbentuk antibody terhadap multiple nuclear, sitoplasmik, dan komponen permukaan sel dari berbagai tipe sel di berbagai system organ, dengan bantuan suatu penanda Ig G dan factor koagulan. Hal inilah yang dapat menjelaskan mengapa SLE dapat menyerang berbagai system organ.

Pembentukan antibody yang berlebihan dapat dihasilkan oleh sel limfosit B yang hiperaktif. Hal-hal yang dapat menyebabkan hiperaktifnya sel limfosit B diantaranya adalah hilanya toleransi sel imun terhadap tubuh, bahan atau cemaran dari lingkungan yang bersifat antigenic, adanya antigen terhadap sel B dari sel B lainnya atau dari antigen pesaing cells (APCs), perubahan sel Th1 menjadi sel Th2 yang kemudian memicu produksi antibody sel B, dan supresi sel B yang tidak sempurna.

Auto-antibodi yang terbentuk umumnya menyerang bagian-bagian penyusun nucleus dalam sel yang sering disebut antinuclear antibody (ANA). Pada pasien SLE dapat ditemukan lebih dari satu macam ANA, yang dapat menyerang berbagai system organ. Antibody yang terbentuk juga dapat menyerang bagian fosfolipid dari activator kompleks protrombin (antikoagulan lupus) dan kardiolipin (antikardiolipin). Antikoagulan lupus dan antikardiolipin merupakan dua antibody yang termasuk kedalam golongan antibody antifosfolipid. Beberapa antibody tersebut dapat muncul bertahun-tahun sebelum diagnosis dapat ditegakkan, namun ada juga beberapa antibody yang muncul dalam hitungan bulan sebelumnya.

Serangkaian reaksi akibat kerusakan regulasi system imun yang kemudian memacu sel B untuk memproduksi autoantibodi, pembentukan kompleks imun yang diikuti oleh aktivasi komplemen, akan menyebabkan inflamasi dan kerusakan pada berbagai jaringan serta organ.

Faktor risiko terjadinya LUPUS (SLE)
Meskipun para doker tidak mengetahui apa yang menyebabkan lupus pada banyak kasus, mereka telah mengidentifikasi faktor apa saja yang meningkatkan risiko penyakit ini, antara lain:
1. Jenis kelamin : Lupus lebih umum pada wanita.
2. Usia : Meskipun lupus dapat berefek pada segala usia, termasuk bayi, anak dan orang dewasa, tetapi lupus paling umum terdiagnosis pada mereka yang berusia antara 15 sampai 40 tahun.
3. Ras : Lupus umumnya terdapat pada ras Afrika, Hispanics dan Asia.
4. Sinar matahari : Terkena sinar matahari dapat membawa pada lupus kulit atau memicu respon internal pada mereka yang rentan.
5. Obat tertentu : Obat tertentu yang digunakan dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan drug-induced lupus. Banyak obat yang secara potensial dapat memicu lupus, sebagai contoh antara lain adalah antipsychotic chlorpromazine; obat tekanan darah tinggi, seperti hydralazine; obat tuberculosis isonoazid dan obat jantung procainamide. Biasanya membutuhkan jangka waktu penggunaan dalam beberapa bulan sebelum gejala timbul.

Terinfeksi virus Epstein-Barr
Merupakan virus yang biasanya tertidur di dalam sel dari sistem imun anda meskipun tidak jelas alasan mengapa dan apa yang membuat virus tersebut aktif kembali.

Terkena zat kimia
Beberapa studi menunjukkan bahwa mereka yang bekerja dan rentan terekspos merkuri dan silica memiliki peningkatan risiko lupus. Merokok juga dapat meningkatkan risiko mengalami lupus.

Gejala Penyakit Lupus
Lupus seringkali sulit untuk didiagnosa karena gejalanya yang mirip dengan penyakit umum lainnya, dan penyebab serta pengobatan dari penyakit itu belum diketahui dengan pasti.
Itulah sebabnya penyakit Lupus disebut sebagai "penyakit seribu wajah" karena gejalanya sama dengan gejala penyakit manapun pada umumnya. Bila penyakit ini menyerang organ jantung maka gejala penyakit akan seperti penyakit jantung. Beberapa gejala awal yang dialami pasien Lupus, antara lain sakit pada sendi dan tulang, demam berkepanjangan bukan karena infeksi, anemia, dan cepat lelah. Sedangkan gejala yang dialami pasien pada tahap lanjut penyakit Lupus, diantaranya bercak merah berbentuk seperti kupu-kupu (butterfly rash), ujung jari berwarna pucat kebiruan, kejang, sakit kepala, stroke, dan keguguran pada ibu hamil.

Apabila empat dari gejala tersebut terdapat pada seseorang maka segera periksa ke dokter. Jika tidak diketahui sejak dini, Lupus sama berbahayanya dengan kanker, penyakit jantung, maupun AIDS dan bisa menyebakan kematian. Hal itu karena Lupus dapat menyerang organ tubuh vital seseorang dengan sangat mudah, seperti jantung, ginjal, hati, paru-paru, selain itu, akibat sifat dan gejala dari Lupus yang menyerupai penyakit umum lain, diagnosa penyakit ini biasanya diperoleh setelah dokter secara bertahap mempelajari riwayat kesehatan pasien dan menggabungkan berbagai keluhan pasien.

Diagnosis
Adanya empat atau lebih dari 11 kriteria baik secara serial maupun simultan cukup untuk menegakkan diagnosis. Kriteria diagnosis untuk SLE diantaranya adalah :
  • ruam di daerah malar
  • ruam discoid 
  • fotosensitivitas 
  • ulkus pada mulut 
  • arthritis : tidak erosive, pada dua atau lebih sendi-sendi perifer 
  • serositis : pleuritis atau perikarditis 
  • gangguan pada ginjal ; proteinuria persisten yang lebih dari 0,5 g/hari 
  • gangguan neurulogik : kejang atau psikosis 
  • gangguan hematologik : anemia hemolitik, leukopenia, limfopenia, atau trombositopenia
  • gangguan imunologik : sel-sel lupus eritematosus (LE) positif, anti DNA 
  • antibody antinuclear (ANA)
Uji laboratorium
ANA positif pada lebih dari 95% pasien lupus. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui adanya antibody yang mampu menghancurkan inti dari sel-sel tubuh sendiri. Selain mendeteksi adanya ANA, juga berguna untuk mengevaluasi pola dari ANA dan antibody spesifik. Pola ANA diketahui dari pemeriksaan preparat dibawah sinar UV. Pemeriksaan ini berguna untuk membedakan SLE dari tipe-tipe gangguan lainnya.
antibody terhadap dsDNA merupakan uji spesifik untuk SLE. Gangguan reumatologik lain dapat menyebabkan ANA positif, tetapi antibody anti DNA jarang ditemukan kecuali pada SLE.
laju enap darah pada pasien SLE biasanya meningkat. Ini adalah uji nonspesifik untuk mengukur peradangan dan tidak berkaitan dengan tingkat keparahan penyakit.
uji factor LE. Sel LE dibentuk dengan merusak beberapa leukosit pasien sehingga sel-sel tersebut mengeluarkan nukleoproteinnya. Protein ini bereaksi dengan IgG, dan kompleks ini difagositosis oleh leukosit normal yang masih ada.
urin diperiksa untuk mengetahui adanya protein, laukosit, dan eritrosit. Uji ini dilakukan untuk mengetahui adanya komplikasi ginjal dan untuk memantau perkembangan penyakit.

Prognosis
Pada penyakit yang parah, resiko yang terbesar adalah iatrogenik obat, dimana akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Survival pasien SLE adalah sekitar 7 % dalam 10 tahun. Survival paling rendah terjadi pada pasien bukan kulit putih, pada kelompok dengan tingkat sosio-ekonomi rendah dan pada pasien dengan keterlibatan ginjal, otak, paru atau jantung yang parah. CAD, gagal ginjal dan infeksi adalah penyebab utama kematian pada pasien SLE.

OBAT ALTERNATIF, TRADISIONAL, HERBAL ALAMI, DAN TERAPI NATUROPATHY pada PENYAKIT SLE/ LUPUS/ PENYAKIT SERIBU WAJAH 
DENGAN TAHITIAN NONI BIOACTIVE BEVERAGE
Mekanisme kerja secara ilmiah TAHITIAN NONI BIOACTIVE BEVERAGE (TNBB) mampu bekerja di tingkat molekular untuk :
1. meningkatkan dan merevitalisasi sistem kerja tubuh (self healing), bekerja melindungi, memperbaiki, mengaktifkan, meremajakan dan meregenerasi sel secara optimal.
2. Memberikan efek manfaat yang optimal serta aman dikonsumsi baik oleh wanita hamil, menyusui, bayi, anak-anak hinggak orang dewasa, yang mencakup segala kondisi kesehatan.

Peranan Tahitian Noni Bioactive Beverage (TNBB) untuk Penyakit Lupus
  • Super antioksi dan sebagai antioksidan eksogenous atau disebut juga sebagai antioksidan di dalam tubuh.
  • Imunomodulator, yaitu mengandung bahan yang dapat meningkatkan kerja komponen-komponen sistem imun.
  • Memiliki zat bioaktif utama yaitu iridoid. Zat ini bekerja di tingkat gen dan mampu memperbaiki kerusakan sel. Selain itu iridoid juga bersifa adaptogen.
  • TNBB bersifat autoimun yang dapat menormalkan sistem imunitas tubuh.
  • Sebagai anti inflamasi atau anti peradangan potensial, iridoid dapat memperbaiki kerusakan sel.
  • TNBB merupakan analgesik yang kuat (anti rasa sakit)

Terapi Supportif yang dapat di berikan adalah:
Berdoa adalah yang terbaik dilakukan sebagai sarana untuk aktivitas spiritual dalam rangka untuk menumbuhkan keyakinan.
Perbaikan Gaya Hidup menjadi keharusan agar lupus tidak sering kambuh.
Harus istirahat yang cukup.
Ketika lupus bisa dikontrol dengan baik, bekerjalah seperti biasa.
Menghindar dari paparan sinar matahari langsung, khususnya dari jam 08.00 wib pagi sampai dengan jam 15.00 wib siang.
Diet yang seimbang, harus bisa mengatur asupan nutrisi dengan baik.
Mengendalikan stres. Ini perlu dilakukan agar tercipta pikiran yang selaras

Patent terapi Tahitian Noni Bioactive Beverage sebagai pencegah dan memperbaiki penyakit autoimmunedengan baik :
a. mereduksi kerusakan selular didalam tubuh manusia
Tahitian Noni dapat me-refungsionalisasi sel yang positif, meningkatkan daya absorbsi sel terhadap nutrisi yang bermanfaat dan regenerasi seluler, menstimulasi produksi sel Limfosit T, dapat meningkatkan respon imun untuk mencegah infeksi, membunuh sel kanker atau sel yang terinfeksi virus, membersihkan radikal bebas (SAR, LPO, HPETEs), meningkatkan pertahanan terhadap stres oksidatif (kerusakan protein, karbohidrat, lipid, dan DNA tubuh) sehingga dapat mereduksi kerusakan struktur dan fungsi seluler (mencegah inisiasi/implikasi terjadinya penyakit). Intinya, paten ini menegaskan keunggulan Tahitian Noni dalam mereduksi kerusakan seluler di dalam tubuh manusia. Paten ini dapat kita lihat di WO 02/43664 A2

b.Formula Dasar dan Metode Aplikasi Morinda Citrifolia L sebagai Antiviral:Morinda Citrifolia L dapat menginhibisi dan mentritment serta prevensi terhadap penyakit yang berhubungan dengan kelebihan enzim Katepsin, Peptidase HIV-1 dan enzim NF-kB. Sebagai manajemen infeksi AIDS, Kanker, Autoimmune dan Degenerative. WO/2007/064601

c. Komposisi Dasar Morinda Citrifolia L, untuk Mentritmen Penyakit Inflamasi dengan cara menginhibisi COX-1, COX2, Interleukin -1, interleukin -6, TNF-a, HLE dan iNOS : Morinda Citrifolia L sebagai preventive dan tritmen penyakit Inflamasi, termasuk penyakit Infeksi, kanker kulit, nekrosis tumor, arthritis rheumatoid, sirosis alkoholik, lupus erithematosus, karsinoma, infeksi mikroba, parasit, crohn, emfisema pulmonal, kistik fibrosis, bronkhitis kronis, sindrom distres respirasi akut (ARDS), glomerulonefritis, Iskhemia serebal, syok septik, disfungsi miokadium, dan gangguan curah jantung) WO/2007/076024


d. Metode dan Komposisi Morinda Citrifolia L untuk Mentritmen Gangguan Dermatologi : mencakup kulit kering, ketombe, kutil, jerawat, kerapuhan rambut, infeksi kuku, kertosis, psoriasis, eksim, pruritus, noda penuaan, kurang lembab, vena laba-laba, purpura senil, lentiginis, melasmas, guratan kulit, bisul, mengkerut, atrofi, impetigo, lesi prakanker, hiperpigmentasi, hiperkeratotik dan inflamasi dermatosis USPTO 20030091666

Tuesday, 8 July 2014

Obat Herbal Penyakit HIV/AIDS



Sering kali HIV/AIDS tertulis dan disebut sebagai satu istilah. Akan tetapi HIV dan AIDS mempunyai artinya yang berbeda.
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang system kekebalan tubuh, melemahkan system kekebalan tubuh sehingga mudah terinfeksi. Dengan kata lain, kehadiran virus ini dalam tubuh akan menyebabkan defisiensi (kekurangan) sistem imun.
Virus ini merupakan virus yang dapat menyebabkan AIDS. Jika anda terinfeksi HIV, anda akan dikatakan sebagai HIV positif.
HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sel darah putih di dalam tubuh (limfosit) yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh manusia. Orang yang dalam darahnya terdapat virus HIV dapat tampak sehat dan belum membutuhkan pengobatan. Namun orang tersebut dapat menularkan virusnya kepada orang lain bila melakukan hubungan seks berisiko dan berbagi alat suntik dengan orang lain. - See more at: http://www.aidsindonesia.or.id/contents/37/78/Info-HIV-dan-AIDS#sthash.zyZUEyai.dpuf



HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sel darah putih di dalam tubuh (limfosit) yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh manusia. Orang yang dalam darahnya terdapat virus HIV dapat tampak sehat dan belum membutuhkan pengobatan. Namun orang tersebut dapat menularkan virusnya kepada orang lain bila melakukan hubungan seks berisiko dan berbagi alat suntik dengan orang lain.

HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sel darah putih di dalam tubuh (limfosit) yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh manusia. Orang yang dalam darahnya terdapat virus HIV dapat tampak sehat dan belum membutuhkan pengobatan. Namun orang tersebut dapat menularkan virusnya kepada orang lain bila melakukan hubungan seks berisiko dan berbagi alat suntik dengan orang lain. - See more at: http://www.aidsindonesia.or.id/contents/37/78/Info-HIV-dan-AIDS#sthash.zyZUEyai.dpuf


HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sel darah putih di dalam tubuh (limfosit) yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh manusia. Orang yang dalam darahnya terdapat virus HIV dapat tampak sehat dan belum membutuhkan pengobatan. Namun orang tersebut dapat menularkan virusnya kepada orang lain bila melakukan hubungan seks berisiko dan berbagi alat suntik dengan orang lain. - See more at: http://www.aidsindonesia.or.id/contents/37/78/Info-HIV-dan-AIDS#sthash.zyZUEyai.dpuf
Penyakit AIDS mempunya masa inkubasi, yaitu masa tunas virus AIDS (HIV) menjadi AIDS. Ketika mulai masa inkubasi atau mulai terjangkitnya HIV, jumlah sel CD-4 dalam tubuh perlahan-lahan akan berkurang sampai setengahnya. Ini berarti tubuh telah kehilangan setengah dari kekebalannya. Dalam kondisi seperti itu, kekebalan masih berfungsi dan masih dapat bertahan sekitar 9-10 tahun. Namun, setelah 9-10 tahun terinfeksi HIV, jumlah sel CD-4 dalam tubuh akan sangat berkurang sehingga kekebalan tidak berfungsi lagi. Pada saat inilah penderita tersebut menjadi penderita AIDS. Jadi bila seseorang mengidap AIDS berarti ia telah terinfeksi HIV sekitar 9-10 tahun silam (diperkirakan masa paling lama). Dengan demikian masa inkubasi HIV berkisar antara 1-9 tahun atau 1-10 tahun atau lebih. Masa inkubasi ini lebih singkat dari bayi-bayi yang lahir dari ibu yang telah mengalami penularan HIV. Bayi-bayi ini mulai menunjukkan gejala-gejala AIDS pada usia 1 tahun.

A : Acquired (didapat).
I : Immune (kekebalan tubuh).
D : Deciency (kekurangan).
S : Syndrome (gejala).

AIDS adalah gejala dari berbagai penyakit system kekebalan tubuh yang lemah akibat infeksi HIV.
AIDS merupakan bentuk terparah atas akibat infeksi HIV.
AIDS jarang sekali terdiri dari satu penyakit saja tetapi terdiri dari sebuah kumpulan atau kombinasi berbagai macam penyakit yang muncul karena tubuhnya tidak dapat melawan penyakit lagi seperti dulu. Pada saat darah terinfeksi virus HIV maka sistem kekebalan tubuh diserang dan dirusak dengan
perlahan-lahan sehingga sistem kekebalan tubuh tidak dapat melawan infeksi dan penyakit biasa lagi.



Akibat menurunnya kekebalan tubuh pada seseorang maka orang tersebut sangat mudah terkena penyakit seperti TBC, kandidiasis, berbagai radang pada kulit, paru, saluran pencernaan, otak dan kanker.


Penyebab HIV/ AIDS
Normalnya sel darah putih dan antibodi menyerang dan menghancurkan organism easing yang masuk ke dalam tubuh. Respon ini diatur oleh sel darah putih bernama limposit CD4. Limposit ini juga merupakan target utama HIV. Sekali masuk ke dalam tubuh, virus memasukkna material genetiknya ke dalam limposit dan melipatgandakan diri.

Ketika salinan virus baru keluar dari sel induk dan masuk ke dalam aliran darah, virus akan menyerang sel lain. Sebagai efeknya sel CD4 akan mati. Siklus ini terus berulang. Pada akhirnya menyebabkan kerusakan sistem imun yang berarti tubuh tidak akan mempu melawan infeksi bakteri dan virus lain.

HIV adalah retrovirus yang biasanya menyerang organ-organ vital sistem kekebalan manusia, seperti sel T CD4+ (sejenis sel T), makrofaga, dan sel dendritik. HIV merusak sel T CD4+ secara langsung dan tidak langsung, padahal sel T CD4+ dibutuhkan agar sistem kekebalan tubuh dapat berfungsi baik. Bila HIV telah membunuh sel T CD4+ hingga jumlahnya menyusut hingga kurang dari 200 per mikroliter darah, maka kekebalan di tingkat sel akan hilang, dan akibatnya ialah kondisi yang disebut AIDS. Infeksi akut HIV akan berlanjut menjadi infeksi laten klinis, kemudian timbul gejala infeksi HIV awal, dan akhirnya AIDS; yang diidentifikasi dengan memeriksa jumlah sel T CD4+ di dalam darah serta adanya infeksi tertentu.

Faktor Risiko HIV/ AIDS
Faktor risiko terinfeksi AIDS antara lain:

  • Tidak memakai pelindung ketika melakukan hubungan seksual dengan lebih dari satu pasangan
  • Tidak memakai pelindung ketika melakukan hubungan seksual dengan orang dengan HIV positif
  • Memiliki penyakit menular seksual lain seperti syphilis, herpes, chlamydia, gonorrhea atau bacterial vaginosis.
  • Bergantian dalam memakai jarum suntik
  • Mendapatkan transfusi darah yang terinfeksi virus HIV
  • Memiliki sedikit salinan gen CCL3L1 yang membantu melawan infeksi HIV
  • Ibu yang memiliki HIV

Penularan HIV/ AIDS bisa terjadi melalui :

  • Seksual.
  • Darah .
  • Suntik/ transfusi darah .
  • Ibu ke anak saat hamil (vertical).
HIV tidak menular melalui :
  • Gigitan nyamuk.
  • Orang bersalaman.
  • Berciuman .
  • Orang berpelukan.
  • Makan bersama .
  • Tinggal serumah

Pemeriksaan Lab : Elisa- Tes pertama HIV.
- Untuk deteksi antibodi dalam darah
- Ab (+) lanut ke tes ke dua.
- Tes dapat dilakukan bulan ke 3-6 hari mulai terpajang virus HIV.

Periode Jendela: 3 minggu sampai 6 minggu

Western Bloting

- Untuk memperkuat hasil tes elisa.
- Deteksi protein spesifik pada individu terinfeksi HIV.
- Hasil Elisa + Western Bloting ?99.9% akurat deteksi infeksi HIV.
- Untuk memperkuat hasil tes Elisa.
- Deteksi protein spesifik pada individu terinfeksi Hiv.

Khusus pemeriksaan CD4 bermanfaat untuk mengetahui kondisi imunitas penderita dan kondisi perbaikan setelah mendapat terapi. 
Menurut WHO gejala HIV ada 4 stadium :

- Stadium l :
  • Asimtomatik.
  • Limfadenopati.
  • Kondisi penderita baik, aktivitas seperti biasa
- Stadium ll :
  • BB menurun.
  • Dermatitis,sariawan kronis,herpes zoster.
  • Ispa,sinusitis kronis.
  • Limfadenopati generaliata persisten.
  • Aktivitas normal.
- Stadium lll :
  • Gejala AIDS Related Compleks (ARC).
  • BB menurun signifikan lebih 10% dalam 1 bulan.
  • Demam berkepanjangan > 1 bulan.
  • Diare kronis > 1 bulan.
  • Kandidasis oral.
  • Penurunan system imun: mudah lelah, infeksi TBC atau infeksi bakteri lainnya.
- Stadium lV: BB turun drastic.
  • Demam > 1 bulan.
  • Diare kronis.
  • Infeksi oportunistik: pneumonia,toksoplasmosis otak,infeksi cytomegalovirus hati dan limpa,herpes simpleks oral dan genital.
  • Lifoma dan sarcoma Kaposi.
  • Ensefalopati oleh HIV.
Diagnosa Penyakit Hiv Aids

Diagnosa ditegahkan berdasarkan :

# Gejala Klinis.
- Gejala mayor :
  • Berat badan menurun.
  • Diare kronis.
  • Demam berkapanjangan.
  • Penurunan kesadaran.
  • Demensi / HIV Ensefalopati.
- Gejala minor :
  • Batuk menetap lebih dari 1 bulan.
  • Dermatitis generalisata.
  • Herpes zoter multi segmental dan herpes.
  • Zoter berulang.
  • Kandidiasis orofaringeal.
  • Herpes simpleks kronis progresif.
  • Limfadenopati generalisata.
  • Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita.
  • Retinitis Virus Sitomegalo.
Diagnosa dianggap positif AIDS apabila :

Penderita dewasa (>12 tahun) dianggap AIDS apabila tes HIV positif disertai sekurang- kurangnya 2 gejala mayor dan 1 gejala minor.

Pengobatan Medis (Convensional) HIV/ AIDS
Tanpa terapi antiretrovirus, rata-rata lamanya perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS ialah sembilan sampai sepuluh tahun, dan rata-rata waktu hidup setelah mengalami AIDS hanya sekitar 9,2 bulan. Namun demikian, laju perkembangan penyakit ini pada setiap orang sangat bervariasi, yaitu dari dua minggu sampai 20 tahun. Banyak faktor yang mempengaruhinya, diantaranya ialah kekuatan tubuh untuk bertahan melawan HIV (seperti fungsi kekebalan tubuh) dari orang yang terinfeksi.Orang tua umumnya memiliki kekebalan yang lebih lemah daripada orang yang lebih muda, sehingga lebih berisiko mengalami perkembangan penyakit yang pesat. Akses yang kurang terhadap perawatan kesehatan dan adanya infeksi lainnya seperti tuberkulosis, juga dapat mempercepat perkembangan penyakit ini. Warisan genetik orang yang terinfeksi juga memainkan peran penting. Sejumlah orang kebal secara alami terhadap beberapa varian HIV. HIV memiliki beberapa variasi genetik dan berbagai bentuk yang berbeda, yang akan menyebabkan laju perkembangan penyakit klinis yang berbeda-beda pula. Terapi antiretrovirus yang sangat aktif akan dapat memperpanjang rata-rata waktu berkembangannya AIDS, serta rata-rata waktu kemampuan penderita bertahan hidup.

Treatment Noni Juice Obat HIV AIDS Alami
  • Anti virus : Menghambat Enzim Peptidase HIV-1.
  • Imunomodulator : Meningkatkan Fagisitosis dan Sitotoksis untuk mengatasi Infeksi Opottunistik (bakteri, jamur, dan virus).
  • Meningkatkan Energy dan Reorganisasi.
  • Paling dominan 85% HIV menular melalui hubungan seksual yang tidak aman dengan pasangan yang terinfeksi HIV.
  • Cairan yang potensial menjadi media penularan HIV adalah : darah, air mani dan cairan vagina.
  • Tropisma Virus : Virus dapat mengenal dan menempel pada sel jaringan tertentu: HIV pada CD4 yang terdapat pada gejala.
Terapi Herbal Tahitian Noni Penyakit HIV AIDS
# Hasil uji kllinis terhadap 11 pasien yang terinfeksi HIV :
  • Setelah diberi obat antiretroviral selama 6 bulan ? tidak memberikan hasil yang baik.
# Setelah diberi kombinasi fitomedika ( TAHITIAN NONI JUICE ) selama 6 minggu terjadi :
  • Peningkatan CD4 dari 184 sel /mm3 menjadi 250 el/mm3(35,86%).
  • Median HIV-1 RNA plasma 18,586 kopi/ml menjadi < 50 kopi/ml (85,71%).
  • Terjadi perbaikan gejalah klinis pada semua pasien dan penigkatan kualitas hide 94,59%.
  • Tidak tejadi efek toksik.
Tahitian Noni Juice dengan kandungan IRIDOID yang utama memiliki efek :


  • Memperbaiki sel-sel yang rusak, meningkatkan energy dan reorganisasi sel.
  • Menghambat enzim peptidase HIV-1 (Enzim Peptidase diperlukan oleh HIV untuk replikasi). 
  • Imunomodulator : meningkatkan Fagositosis dan Sototokis → atasi Infeksi Oportunnistik (Bakteri, Jamur, dan Virus).
Maxidoid telah terbukti membantu meningkatkan fungsi system imun dengan meningkatkan rasio T-sel. Penelitian membuktikan bahwa maxidoid meningkatkan rasio CD4 (helper) dan CD8 (suppressor), semakin tinggi jumlah yang dikonsumsi maka semakin bagus efeknya

Dalam suatu penelitian ditemukan bahwa orang dewasa sehat meminum 2.5 ounce maxidoid dalam 2 bulan terbukti meningkatkan 30%  aktifitas sel  pembunuh yang merupakan bagian utama dari garis depan pertahankan system imun. Maxidoid juga meningkatkan sebayanyak 32% interleukin -2  -molekul penting pemberi signal untuk menginformasikan system bagaimana berespon di saat – saat yang diperlukan.

1 west brett, et al. To be published in Advance Journal of Food Science and Technology, Apr 2012; 4(2).
2Ma , DL, et al, Chinese Medical Research and Clinical 6(6):8-10.

PATENT EFEK THERAPY TAHITIAN NONI
25. Metode dan Formula Morinda Citrifolia L untuk Mentritmen Kandidiasis: Morinda Citrifolia dapat menginhibisi atau mencegah pertumbuhan jamur kandida, dan untuk mentritmen kandidiasis atau gejala yang sejenisnya. Kandidiasis sangat   berbahaya untuk penderita Kanker, Leukemia/kandidiasis hepatosplenik, dan kandidiasis endokarditis. Dan dapat diaplikasikan untuk prevensi resiko kandidiasis pada pasien yang menjalani terapi hormonal, kortikosteroid, kontrasepsii tinggi estrogen, terapi kanker atau HIV, diabetes, gangguan endokrin, tiroid serta infeksi via plasenta. USPTO 7,014,873

26. Formula Dasar Morinda Citrifolia L, untuk regulasi Imunomodulasi Sel T pada Stok Hewan Neonatal : WO/2009/032851

27. Formula Dasar dan Metode Aplikasi Morinda Citrifolia L sebagai Antiviral: Morinda Citrifolia L dapat menginhibisi dan mentritment serta prevensi terhadap penyakit yang berhubungan dengan kelebihan enzim Katepsin, Peptidase HIV-1 dan enzim NF-kB. Sebagai manajemen infeksi AIDS, Kanker, Autoimmune dan Degenerative. WO/2007/064601
 


29. Komposisi Fitonutraseutikal yang Bekerja Sinergis terhadap penyakit HIV/AIDS dan Autoimmune: Morinda Citrifolia L dapat berfungsi sebagai biointelijen dalam proses penyembuhan imunokompromis atau Autoimmune, selain bekerja meningkatkan energi dan memproteksi sel atau jaringan. Dapat juga mengurangi efek samping dari obat medis/sintetis dan mendatangkan efikasi yang optimal. Semua pasien yang diterapi dengan kombinasi tersebut 94.59 % mengalami peningkatan perbaikan gejala klinik dan kualitas hidup USPTO 7.604,823
 
  • Formula Dasar dan Metode Aplikasi Morinda Citrifolia L sebagai Antiviral:Morinda Citrifolia L dapat menginhibisi dan mentritment serta prevensi terhadap penyakit yang berhubungan dengan kelebihan enzim Katepsin, Peptidase HIV-1 dan enzim NF-kB. Sebagai manajemen infeksi AIDS, Kanker, Autoimmune dan Degenerative.WO/2007/064601.
  • Komposisi Fitonutraseutikal yang Bekerja Sinergis terhadap penyakit HIV/AIDS dan Autoimmune: Morinda Citrifolia L dapat berfungsi sebagai biointelijen dalam proses penyembuhan imunokompromis atau Autoimmune, selain bekerja meningkatkan energi dan memproteksi sel atau jaringan. Dapat juga mengurangi efek samping dari obat medis/sintetis dan mendatangkan efikasi yang optimal. Semua pasien yang diterapi dengan kombinasi tersebut 94.59 % mengalami peningkatan perbaikan gejala klinik dan kualitas hidup USPTO 7.604,823
  • Preverentative and treatment effects of Morinda Citrifolia on HIV AIDS,US Patent No. 7.604.823 Oktober 2009,etc.

 

  

Wednesday, 28 May 2014

Testimoni Heryani - Noni Mampu Melawan Virus HIV AIDS

Heryani 27 Tahun
Alamat : Komplek Perum Duta Mas, Jl. Pasir Putih Marpoyan Pekanbaru – Riau.

Pada tanggal 13 November 2012, berdasarkan data dari Laboratorium Klinik Patologi Rumah Sakit Kanker Darmais Jakarta, diketahui :
- CD 4 Absolut : 258, nilai rujukan 410-1590.
- CD 4 % : 14, rujukan 31-60

Dengan data tersebut, pada tanggal 3 Desember pasien mulai minum noni original 1 liter perhari (150ml per 2-3 jam) sebanyak 5 liter, lalu dilanjutkan dengan extra 150ml x 5 perhari sebanyak 4 botol.

Pada tanggal 12 Desember 2012 kembali cek darah untuk melihat perkembangan CD 4 di Laboratorium yang sama, hasilnya:
- CD 4 Absolut : 281
- CD 4 % : 18

Minum Noni terus dilanjutkan 1 liter perhari untuk Original dan 1 botol Extra @ 750ml perhari bergantian setiap 4 hari hingga tanggal 2 Januari 2013 (selama 30 hari). Setelah itu Noni Original diminum 240 ml perhari.

Pada tanggal 15 Januari 2013 kembali cek darah untuk melihat perkembangan CD 4 di Laboratorium yang sama, hasilnya:
- CD 4 Absolut : 418
- CD 4 % : 1.