Efek Blog
Showing posts with label Masalah Kehamilan - Pregnancy Problems. Show all posts
Showing posts with label Masalah Kehamilan - Pregnancy Problems. Show all posts

Sunday, 10 August 2014

Obat Herbal untuk Penanganan Persalinan Prematur


Kelahiran prematur adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu ( antara 20 – 37 minggu ) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram.

Insidensi Kelahiran Prematur
Kejadian kelahiran prematur terdapat pada sekitar lima persen kehamilan.

Penyebab Kelahiran Prematur
Setengah dari kejadian bayi lahir prematur tidaklah diketahui secara pasti penyebab mereka lahir terlalu cepat

Faktor Risiko Kelahiran Bayi Prematur
Faktor risiko, seperti merokok, obesitas, penyakit yang diderita ibu (diabetes, hipertensi, infeksi saluran kemih), rahim yang tidak normal, dan pernah melahirkan prematur sebelumnya.
Kehamilan di usia muda (usia ibu kurang dari 18 tahun), pemeriksaan kehamilan yang tidak teratur, golongan sosial-ekonomi rendah dan penyalahgunaan obat, keadaan gizi yang kurang atau anemia. Kondisi lain seperti janin dengan kelainan kongenital atau produksi cairan amnion berlebihan dapat merangsang ke persalinan yang lebih awal. Masalah pada ibu yang menjadi penyebab terjadinya prematuritas dapat berupa riwayat persalinan prematur pada kehamilan sebelumnya, kadar alfa-fetoprotein tinggi pada trimester kedua yang penyebabnya tidak diketahui, penyakit atau infeksi yang tidak diobati (misalnya infeksi saluran kemih atau infeksi selaput ketuban), kelainan pada rahim atau leher rahim, ketuban pecah sebelum waktunya, plasenta previa, pre-eklamsi (suatu keadaan yang biasa terjadi pada trimester kedua kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah yang tinggi, adanya protein dalam air kemih, dan pembengkakan pada tungkai), penyakit jantung dan diabetes melitus.

Tanda- tanda Persalinan Prematur
Tanda-tanda persalinan prematur, yaitu:
Kram seperti ketika datang bulan atau rasa sakit pada punggung. Kram perut, dengan atau tanpa diare. Kontraksi rahim yang teratur dengan jarak waktu sepuluh menit atau kurang dan kontraksi ini tidak harus terasa sakit. Rasa tertekan pada perut bagian bawah, terasa berat atau seperti bayi yang mendorong ke bawah. keluar air atau cairan lainnya dari vagina.

Diagnosis Persalinan Prematur
Beberapa kriteria yang dipakai sebagai diagnosis ancaman persalinan preterm :
1. Kontraksi yang berulang sedikitnya tiap 7-8 menit sekali atau 2-3 kali dalam 10 menit
2. Nyeri Punggung bawah (Low Back Pain)
3. Perdarahan bercak
4. Perasaan menekan daerah servik
5. pemeriksaan servik menunjukkan telah terjadi pembukaan sedikitnya 2 cm, dan penipisan hingga 80%
6. Presentasi janin rendah sampai mencapai spina ischiadica
7. Selaput ketuban pecah dapata merupakan tanda awal terjadinya persalinan preterm
8. Terjadi pada usia kehamilan 22-37 minggu
Berbagai Indikator telah dikemukakan untuk pengenalan dini resiko terjadinya persalinan preterm antara lain 
Indikator klinik.
1. Timbulnya kontraksi dan pemendekan servik (secara manual atau USG)
2. Terjadi ketuban pecah dini
Indikator laboratorium. :
1. leukosit dalam air ketuban (20/ml atau lebih)
2. C-Reactive Protein lebih dari 0.7 mg /ml
3. Leukosit dalam serum ibu lebih dari 13.000/ml
 
Indikator Biokimia.
  1. Fibronektin janin : Kadar meningkat pada vagina, serviks, air ketuban memberikan indikasi adanya gangguan pada hubungan antara korion dan desidua. Pada kehamilan ≥ 24 minggu, kadar fibronektin janin ≥ 50 ng/ml mengindikasikan resiko preterm
  2. Corticotropin Releasing Hormon : Kasus-kasus persalinan preterm yang berkaitan dngan stress akan disertai dengan peningkatan kadar CRH pada serum ibu. Peningkatan dini / pada trimester kedua merupakan indikator kuat terjadinya persalinan preterm
  3. Sitokin inflamasi : Seperti IL-1β, IL-6, IL-8 dan TNFα telah di teliti sebagai indikator yang makin berperan pada PGE. IL-6 merupakan sitokin yang paling dominan diekspresikan dalam air ketuban. dengan nilai batas (cutoff) 3000pg/ml IL-6 dalam air ketuan akan beresiko untuk terjadinya persalinan preterm.
  4. Isoferitin Plasenta : Isoferritin Plasenta adalah protein yang diekspresi oleh sel limnfosit T (T-Cell/CD-4) pada plasenta. Penurunan kadar isoferritin dalam serum kurang dari 15,8 ± 15,7 U/ml akan beresiko untuk terjadinya persalinan preterm dengan nilai prediksi positip 59%
Bahaya/ Komplikasi Persalinan Prematur
Bahaya dari kelahiran prematur adalah lahirnya bayi yang belum sempurna pertumbuhannya dan beresiko tinggi untuk mengalami komplikasi. Sekitar 10% dari semua kehamilan berakhir dengan kelahiran prematur. Dan sekitar 60% komplikasi serius atau kematian bayi terjadi akibat kelahiran prematur.

Komplikasi Persalinan Prematur
Adapun komplikasi yang mungkin terjadi 10
o  Mengalami Kelainan Jangka Pendek
     -  RDS (Respiratory Distress Syndrom)
     -  Perdarahan Intra/periventrikuler
     -  NEC (Necrotizing Entero Cillitis)
     -  Displasi bronko pulmonar
     -  Sepsis
     -  Paten Ductus Arteriosus
o Mengalami Kelainan Jangka Panjang
     - Cerebral Palsy
     -  Retinopati
     -  Retardasi Mental
     -  Disfungsi Neurobehavioral dan prestasi sekolah yang kurang baik
o  Kematian Perinatal
Pencegahan Persalinan Prematur
Pada umumnya pencegahan persalinan prematur dapat dilakukan melalui tiga jenis upaya yaitu pencegahan primer, pencegahan sekunder dan pencegahan tersier'
• Pencegahan primer : pencegahan melalui pendekatan pada faktor resiko untuk terjadinya persalinan prematur, faktor yang sering menimbulkan resiko kejadian persalinan prematur adalah merokok, mengkonsumsi obat-obatan dan alkohol, serta faktor nutrisi
• Pencegahan sekunder : pada tahap gejala klinis belum tampak nyata, tetapi proses secara patologis sudah berjalan, upaya pencegahan pada tahap ini dapat menghambat atau menghentikan proses patologis supaya tidak berkembang
• Pencegahan tersier  : upaya pencegahan persalinan prematur pada saat gejala secara klinis sudah nyata didapatkan. tahap ini ditujukan untuk memperpanjang masa kehamilan dengan maksud memberikan kesempatan untuk memperbaiki kualitas janin dan mempersiapkan persalinan yang memadai.
Upaya historis telah dilakukan terutama ditujukan untuk meningkatkan kelangsungan hidup dan kesehatan bayi prematur (tersier intervensi). Namun upaya-upaya tersebut tidak mengurangi kejadian kelahiran prematur. Peningkatan  intervensi utama yang diarahkan pada semua wanita, dan intervensi sekunder untuk mengurangi resiko yang ada, dipandang perlu sebagai langkah-langkah untuk dikembangkan dan dilaksanakan guna mencegah masalah kesehatan bayi prematur dan anak-anak.
Prakonsepsi
Meningkatkan kesadaran publik dan profesional mengenai ruang lingkup masalah dan maknanya sebagai penyumbang utama kematian bayi merupakan awal untuk mengurangi faktor risiko dapat dihindari. Di antara mereka adalah kebutuhan untuk mengurangi instrumentasi rahim berulang (yaitu bedah aborsi berulang) dan untuk menghindari pilihan yang berisiko dalam perawatan infertilitas. Adopsi kebijakan profesional tertentu dapat mengurangi risiko kelahiran prematur sebagaimana pengalaman dalam penangan kasus  reproduksi terbatas. Banyak negara telah membentuk program khusus untuk melindungi wanita hamil dari berbahaya terkait shift malam. pekerjaan, menyediakan mereka dengan waktu untuk kunjungan prenatal dan dibayar kehamilan-pergi. Penelitian menunjukkan bahwa kelahiran prematur tidak berhubungan dengan jenis pekerjaan, tapi untuk bekerja berkepanjangan (lebih dari 42 jam per minggu) atau berdiri terlalu lama (lebih dari 6 jam per hari). Juga, kerja malam telah dikaitkan dengan kelahiran prematur. Kebijakan kesehatan yang memperhitungkan hal ini dapat diharapkan untuk mengurangi tingkat kelahiran prematur. Penting menghindari berat badan ekstrim dan dukungan nutrisi yang baik.
Meskipun studi gagal untuk menunjukkan bahwa persiapan multivitamin diambil sebelum konsepsi mengurangi risiko kelahiran prematur, asupan asam folat prakonsepsi dianjurkan untuk mengurangi cacat lahir. Ada bukti yang signifikan bahwa jangka panjang (> satu tahun) penggunaan suplemen asam folat dapat mengurangi preconceptionally kelahiran prematur. Mengurangi merokok diharapkan dapat memberikan manfaat pada wanita hamil dan keturunan mereka.
Selama kehamilan
Intervensi yang seharusnya telah dimulai sebelum kehamilan masih dapat lakukan selama kehamilan, termasuk penyesuaian nutrisi, penggunaan suplemen vitamin, dan berhenti merokok, suplemen Kalsium serta asupan suplemen vitamin C dan E. Tidak dapat ditampilkan untuk mengurangi kelahiran prematur tarif. Strategi yang berbeda digunakan dalam administrasi perawatan prenatal, dan studi masa depan perlu untuk menentukan apakah harus fokus pada skrining bagi perempuan berisiko tinggi, atau melebar dukungan untuk perempuan berisiko rendah, atau untuk apa gelar pendekatan ini harus digabung. Sementara infeksi periodontal telah dikaitkan dengan kelahiran prematur, percobaan acak tidak menunjukkan bahwa perawatan periodontal selama kehamilan mengurangi tingkat kelahiran prematur
Screening perempuan berisiko rendah
Skrining untuk bakteriuria asimtomatik diikuti dengan pengobatan yang tepat mengurangi pielonefritis dan mengurangi risiko lahir prematur. studi ekstensif telah dilakukan untuk menentukan apakah bentuk lain dari skrining pada wanita berisiko rendah diikuti dengan intervensi yang tepat yang bermanfaat, termasuk: Skrining untuk. dan pengobatan Ureaplasma urealyticum, streptokokus grup B, Trichomonas vaginalis, dan vaginosis bakteri tidak mengurangi tingkat kelahiran prematur. USG rutin pemeriksaan dari panjang serviks mengidentifikasi pasien pada risiko,. tapi cerclage tidak terbukti berguna, dan penerapan progesteron yang berada di bawah studi. Skrining untuk kehadiran fibronektin dalam cairan vagina tidak dianjurkan saat ini pada wanita berisiko rendah.
Perawatan diri
Perawatan diri merupakan metode untuk mengurangi risiko kelahiran prematur meliputi nutrisi yang tepat, menghindari stres, mencari perawatan medis yang tepat, menghindari infeksi, dan kontrol faktor risiko kelahiran prematur (misalnya bekerja berjam-jam sambil berdiri, paparan karbon monoksida, kekerasan dalam rumah tangga , dan faktor lainnya). Pemantauan diri pH vagina diikuti dengan pengobatan yoghurt atau pengobatan klindamisin jika pH terlalu tinggi semua tampaknya efektif untuk mengurangi risiko lahir prematur 
Wanita diidentifikasi berada pada peningkatan risiko untuk lahir prematur berdasarkan riwayat masa lalu kandungan mereka atau adanya faktor risiko yang diketahui. Prakonsepsi intervensi dapat membantu pada pasien yang dipilih dalam beberapa cara. Pasien dengan anomali uterus tertentu mungkin memiliki koreksi bedah (pengangkatan yaitu dari septum uterus), dan mereka dengan masalah medis tertentu dapat dibantu dengan mengoptimalkan medis sebelum konsepsi, baik untuk asma, diabetes, hipertensi dan lain-lain
Bed Rest (istirahat)
Pengurangan dalam kegiatan ibu meliputi pengistirahatan panggul, kerja terbatas, istirahat di tempat tidur - sering dianjurkan meskipun tidak ada bukti yang jelas dari kemanjurannya. Juga, meningkatkan perawatan medis dengan kunjungan yang lebih sering dan lebih banyak pendidikan belum menunjukkan penurunan tingkat kelahiran prematur.  Penggunaan suplemen gizi seperti omega-3 asam lemak tak jenuh ganda didasarkan pada pengamatan bahwa populasi yang memiliki asupan tinggi agen tersebut berada pada risiko rendah untuk kelahiran prematur, mungkin sebagai agen-agen menghambat produksi sitokin pro inflamasi. Sebuah uji coba secara acak menunjukkan penurunan signifikan dalam tingkat kelahiran prematur,  dan studi lebih lanjut dalam pembuatan.
Antibiotik
Studi memeriksa penggunaan antibiotik telah memberi hasil beragam, sebuah tinjauan Cochrane dari 15 percobaan menunjukkan tidak ada manfaat besar, kontras review oleh Lamont menyarankan bahwa pengobatan vaginosis bakteri jika dimulai sebelum usia kehamilan 20 minggu menguntungkan. Ia telah mengemukakan bahwa kehadiran korioamnionitis kronis tidak mungkin dapat digunakan untuk antibiotik, sehingga kesulitan untuk menunjukkan efektivitas mereka.
Pada Ibu dengan ancaman persalinan prematur dan terdeteksi adanya vaginosis bakterial, pemberian klindamisin (2x300mg perhari selama 7 hari) atau Metronidazol (2x500mg perhari selama 7 hari) akan bermanfaat bila diberikan pada usia kehamilan <32 div="" minggu.="">
Progesteron
Progesteron, sering diberikan dalam bentuk 17-hidroksiprogesteron caproate, melemaskan otot-otot rahim, mempertahankan panjang serviks, dan memiliki sifat anti-inflamasi, dan dengan demikian diberikannya kegiatan diharapkan akan bermanfaat dalam mengurangi kelahiran prematur. Dua meta-analisis menunjukkan pengurangan dalam risiko kelahiran prematur pada wanita dengan kelahiran prematur berulang oleh 40-55%. Namun, progesteron tidak efektif dalam semua populasi, sebagai studi yang melibatkan kehamilan kembar gagal untuk melihat manfaat apapun.
Cerclage serviks
Dalam persiapan untuk persalinan, leher rahim wanita lebih pendek. Serviks memendek dikaitkan dengan kelahiran prematur dan dapat dideteksi dengan ultrasonografi. Cerclage serviks adalah intervensi bedah yang menempatkan jahitan sekitar leher rahim untuk mencegah pemendekan dan melebar. Sejumlah penelitian telah dilakukan untuk menilai nilai cerclage serviks dan prosedur muncul membantu terutama untuk wanita dengan leher rahim pendek dan riwayat lahir prematur. Alih-alih cerclage profilaksis, wanita berisiko bisa dimonitor selama kehamilan oleh sonografi , dan ketika pemendekan serviks diamati, cerclage dapat dilakukan.
Hidrasi dan Sedasi
Hidrasi oral maupun intravena sering dilakukan untuk mencegah persalinan prematur. Mekanisme biologisnya belum diketahui pasti. Berdasarkan percobaan pada binatang menunjukkan bahwa hidrasi menghambat hormon antidiuresis (ADH) dan ekspansi volume plasma, karena pada ibu dengan ancaman persalinan prematur sering didapatkan  hipovolemi.  Hidrasi yang berlebihan disertai dengan pemberian tokolitik betamimetik dapat menimbulkan edema paru
Inhibisi kontraksi dengan tokolitik
Pencegahan tersier adalah intervensi yang dilakukan apabila persalinan prematur tidak dapat dicegah lagi. Tujuannya adalah untuk menurunkan morbiditasdan mortalitas akibat persalinan prematur dengan cara merujuk ibu dalam kehamilan ke tempat persalinan yang lebih baik
Obat-obatan tokolitik yang dimaksud antara lain
  1. Beta2-sympathomimetics : Preparat yang biasa dipakai adalah ritodrine, terbutaline, salbutamol, isoxsuprine, fenoterol dan hexoprenaline. Kontraindikasi pemberian adalah penyakit jantung pada ibu, hipertensi atau hipotensi, hipertiroid, diabetes. Efek samping yang dapat terjadi yaitu; palpitasi, mual, sakit kepala, nyeri dada, hipotensi, aritmia jantung, edema paru, hiperglikemi dan hipokalemi. Efek samping pada janin antara lain; fetal takhikardia, hipoglikemik, hipokalemi, hipotensi.
  2. Indomethacin : Indomethacin adalah golongan antiinflamasi nonsteroid yang akan menghambat enzym COX (cyclo-oxygenase) sehingga mempengaruhi metabolisme prostaglandin. Indomethacin jarang menyebabkan efek samping pada ibu hamil, namun apabila terjadi, efek samping dapat berupa ulkus peptikum, perdarahan gastrointestinal, trombositopeni, reaksi alergi, gagal ginjal dan hipertensi berat bia dipakai bersama betablockers.
  3. 3.  COX (cyclo-oxygenase)-2 inhibitors: Merupakan enzim spesifik yang berperan pada mekanisme persalinan prematur dan efek sampingnya akan lebih ringan dibandingkan dengan inhibitor COX yang tidak spesifik seperti indomethacin.
  4. Atosiban : Atosiban adalah suatu analog oksitosin yang bekerja pada reseptor oksitosin dan vasopresin. Diberikan secara parenteral. Meskipun lebih mahal dibandingkan nifedipin, namun lisensinya yang diperuntukkan pencegahan prematur dan keamanan pada ibu menyebabkan obat ini dipakai sebagai tokolitik lini pertama.
  5. Nifedipin : Nifedipin adalah antagonis kalsium yang diberikan peroral dan harganya murah. Menurut analisis Cochrane yang membandingkan nifedipin dengan tokolitik yang lain, juga membuktikan hambatan terhadap persalinan dan berkurangnya persalinan prematur < 34 minggu. Dosis yang diberikan 3x10mg per hari. Efek samping yang muingkin terjadi yaitu edema paru akut.
  6. Magnesium Sulfat : Magnesium sulfat dipakai sebagai tokolitik yang diberikan secara parenteral di USA. Mekanismenya belum jelas mungkin terlibat dalam kompetisi antara kalsium intraseluler dengan hiperpolarisasi membran sel. Terdapat berbagai macam efek samping yang ditemui seperti; sakit kepala, nistagmus, rasa kering pada mulut, rasa lelah dan pada pasien dengan gangguan ginjal dapat terjadi gangguan neuromuskuler.
Prognosis (Prediksi) Persalinan Prematur
Pada kehamilan umur 32 minggu dengan berat bayi > 1500 gr keberhasilan hidup sekitar 85%, sedang dengan berat bayi < 1500gr keberhasilan sekitar 80%. Pada Kehamilan umur < 32 minggu dengan berat bayi < 1500gr angka keberhasilan hanya 59%.
Penatalaksanaan Persalinan Prematur secara Medis
Beberapa langkah yang dapat dilakukan pada persalinan preterm, terutama mencegah morbiditas dan mortalitas neonatus preterm adalah7,8,9:
1. menghambat proses persalinan preterm dengan pemberian tokolisis
2. pematangan surfaktan paru janin dengan kortikosteroid
3. pencegahan terhadap infeksi dengan pemberian antibiotik
4. Emergency cerclage
5. Perencanaan persalinan
Pengobatan Alternatif/ Herbal Mencegah Persalinan Prematur atau Meningkatkan Harapan Hidup Neonatus/ Bayi (Bila Terjadi Persalinan Prematur) 
Manfaat Tahitian Noni Juice
1.Tahitian Noni Bioactive Beverage dapat meningkatkan system imunitas tubuh karena TNBB mengandung bioactive antraquinon dan terpenoidcompund (betacarotene)
2. Tahitian Noni Bioactive Beverage dapat menghambat radikal bebas karena TNBB berperan sebagai super antioksidan
3. Tahitian Noni Bioactive Beverage dapat menghambat proses aromaterase. Aromaterase adalah proses perubahan androgen adrenal menjadi estrogen sehibgga kadar estrogen didalam darah meningkat. Dengan dihambatnya proses aromaterase, maka kadar estrogen di dalam darah tidak meningkat.
4. Tahitian Noni Bioactive Beverage mengandung iridoid Aglikon yang dapat memulihkan fungsi dan struktur sel dengan cara menaktifkan dan meningkatkan fungsi berbagai protein seluler

Tahitian Noni Bioactive Beverage Kaya akan Vitamin dan Mineral  yang sangat bermanfaat untuk calon Ibu Hamil atau Ibu Hamil
Bagi ibu hamil bisa minum Tahitian Noni Original dan Maxidoid sebagai tambahan perlindungan bagi si bayi, dan nutrisi yang terkandung di dalam minuman ini sebanyak 230 macam, ikut mambantu kebutuhan nutrisi ibu maupun si bayi. Kandungan iridoid didalamnya  melindungi dari kerusakan DNA (lembar cetak tubuh kita) dari perusak atau radikal bebas. 

Tuesday, 5 August 2014

Obat Herbal Cairan Ketuban yang Sedikit (Olygohidramnion)



Cairan ketuban adalah salah satu bagian dari sistem pendukung kehidupan bayi yang terbentuk sekitar 12 hari setelah pembuahan. Cairan ini bisa melindungi bayi dan membantu pertumbuhan dan perkembangan otot, kaki, paru-paru dan sistem pencernaan bayi, menjadi bantalan untuk melindungi janin terhadap trauma dari luar, menstabilkan perubahan suhu, pertukaran cairan, sarana yang memungkinkan janin bergerak bebas, sampai mengatur tekanan dalam rahim. Tak hanya itu air ketuban juga berfungsi melindungi janin dari infeksi.

Pada awalnya cairan ketuban berisi air yang berasal dari ibunya, tapi pada usia kehamilan 20 minggu cairan ketuban berisi urin janin. Cairan ketuban ini bisa terlalu rendah atau terlalu tinggi, jika terlalu rendah disebut dengan oligohidramnion dan jika terlalu tinggi disebut dengan polihidramnion. Cairan ketuban ini tidak boleh sedikit, tapi beberapa komplikasi bisa menyebabkan cairan ketuban ibu hamil habis yang bisa membahayakan ibu hamil dan bayinya.

Saat usia kehamilan 25-26 minggu, jumlahnya rata-rata 239 ml. Lalu meningkat jadi+ 984 ml pada usia kehamilan 33-34 minggu dan turun jadi 836 ml saat janin siap lahir.

Olygohidramnion adalah suatu kondisi yang memiliki cairan ketuban terlalu sedikit. Dokter bisa mengukur jumlah cairan ini melalui beberapa metode, dan yang paling sering adalah melalui indeks cairan ketuban (Amniotic Fluid Index/AFI). Jika volume cairan kurang dari 500 ml pada usia kehamilan 32-36 minggu, maka akan dicurigai mengalami oligohidramnion. Kondisi ini bisa terjadi selama masa kehamilan, tapi yang paling umum adalah saat trimester ketiga.

Jika waktu melahirkan sudah lewat hingga dua minggu atau lebih, maka tingkat cairan ketuban beresiko menjadi rendah karena cairan ketuban pada umumnya akan berkurang setelah mencapai usia kehamilan 42 minggu.
Ada beberapa definisi istilah oligohidramnion yang biasanya dipakai diantaranya:
· Berkurangnya volume air ketuban (VAK)
· Volumenya kurang dari 500 cc saat usia 32-36 minggu
· Ukuran satu kantong (kuadran) < 2 cm
· Amniotic fluid index (AFI) < 5 cm atau < presentil kelima
· Kurangnya jumlah amniotic fluid volume (AFV)
· AFV < 500 ml pada usia gestasi 32-36 minggu
· Single deepest pocket (SDP) < 2 cm

Insidensi Olygohidramnion (Volume Air Ketuban yang sedikit)
Marks dan Divon menemukan oligohidramnion yang didefinisikan sebagai indeks cairan amnion sebesar 5 cm atau kurang pada 12 persen dari 511 kehamilan berusia 41 minggu atau lebih. Pada 121 wanita yang diteliti secara longitudinal, terjadi penurunan rata-rata indeks cairan amnion sebesar 25 persen per minggu setelah 41 minggu. Akibat berkurangnya cairan, risiko kompresi tali pusat, dan pada gilirannya gawat janin, meningkat pada semua persalinan, tetapi terutama pada kehamilan postterm.

Epidemiologi Olygohidramnion
sekitar 8% wanita hamil memiliki cairan ketuban terlalu sedikit. Olygohydramnion dapat terjadi kapan saja selama masa kehamilan, walau pada umumnya sering terjadi di masa kehamilan trimester terakhir. Sekitar 12% wanitayang masa kehamilannya melampaui batas waktu perkiraan lahir (usia kehamilan 42 minggu) juga mengalami olygohydrasmnion, karena jumlah cairan ketuban yang berkurang hampir setengah dari jumlah normal pada masa kehamilan 42 minggu.

Patofisiologi Olygohidramnion Terlalu sedikitnya cairan ketuban dimasa awal kehamilan dapat menekanorgan-organ janin dan menyebabkan kecacatan, seperti kerusakan paru-paru,tungkai dan lengan. Olygohydramnion yang terjadi dipertengahan masa kehamilan juga meningkatkan resiko keguguran, kelahiran prematur dan kematian bayi dalam kandungan. Jika ologohydramnion terjadi di masa kehamilan trimester terakhir, hal ini mungkin berhubungan dengan pertumbuhan janin yang kurang baik. Disaat-saat akhir kehamialn, oligohydramnion dapat meningkatkan resiko komplikasi persalinan dan kelahiran, termasuk kerusakan pada ari-ari memutuskan saluran oksigen kepada janin dan menyebabkan kematian janin.
Sindroma Potter dan Fenotip Potter adalah suatu keadaan kompleks yang berhubungan dengan gagal ginjal bawaan dan berhubungan dengan oligohidramnion (cairan ketuban yang sedikit).
Fenotip Potter digambarkan sebagai suatu keadaan khas pada bayi baru lahir, dimana cairan ketubannya sangat sedikit atau tidak ada. Oligohidramnion menyebabkan bayi tidak memiliki bantalan terhadap dinding rahim. Tekanan dari dinding rahim menyebabkan gambaran wajah yang khas (wajah Potter). Selain itu, karena ruang di dalam rahim sempit, maka anggota gerak tubuh menjadi abnormal atau mengalami kontraktur dan terpaku pada posisi abnormal.
Oligohidramnion juga menyebabkan terhentinya perkembangan paru-paru ( paru-paru hipoplastik ), sehingga pada saat lahir, paru-paru tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Pada sindroma Potter, kelainan yang utama adalah gagal ginjal bawaan, baik karena kegagalan pembentukan ginjal (agenesis ginjal bilateral) maupun karena penyakit lain pada ginjal yang menyebabkan ginjal gagal berfungsi.
Dalam keadaan normal, ginjal membentuk cairan ketuban (sebagai air kemih) dan tidak adanya cairan ketuban menyebabkan gambaran yang khas dari sindroma Potter.
Gejala Sindroma Potter berupa :
- Wajah Potter (kedua mata terpisah jauh, terdapat lipatan epikantus, pangkal hidung
yang lebar, telinga yang rendah dan dagu yang tertarik ke belakang).
- Tidak terbentuk air kemih
- Gawat pernafasan,
Pada kehamilan sangat muda, air ketuban merupakan ultrafiltrasi dari plasma maternal dan dibentuk oleh sel amnionnya. Pada trimester II kehamilan, air ketuban dibetuk oleh difusi ekstraselular melalui kulit janin sehingga komposisinya mirip dengan plasma janin. Selanjutnya setelah trimester II, terjadi pembentukan zat tanduk kulit janin dan menghalangi disfusi plasma janin sehingga sebagian besar air ketubannya dibentuk oleh sel amnionnya dan air kencingnya.

Ginjal janin mengeluarkan urin sejak usia 12 minggu dan setelah mencapai usia 18 minggu sudah dapat mengeluarkan urin sebanyak 7-14 cc/hari. Janin aterm mengeluarkan urin 27 cc/jam atau 250 cc dalam sehari.

Sirkulasi air ketuban sangat penting, sehingga jumlahnya dapat dipertahankan dengan tetap. Pengaturannya dilakukan oleh tiga komponen penting berikut:
a. Produksi yang dihasilkan oleh sel amnion.
b. Jumlah produksi air kencing.
c. Jumlah air ketuban yang ditelan janin.

Setelah trimester II sirkulasinya makin meningkat sesuai dengan tuanya kehamilan sehingga mendekati aterm mencapai 500 cc/hari.

Produksinya akan berkurang jika terjadi insufisiensi plasenta, kehamilan post term, gangguan organ perkemihan, janin terlalu banyak minum, sehingga dapat menimbulkan makin berkurangnya jumlah air ketuban intrauteri “ologohidramnion” dengan kriteria:
a. Jumlah kurang dari 200 cc.
b. Kental. 
c. Bercampur mekonium.

Penyebab rendahnya cairan ketuban adalah:
1. Kelainan kongenital (janin) yang berhubungan dengan kelainan sistem saluran kemih, seperti; ginjal tidak berkembang secara normal, atau terjadi penyumbatan saluran kemih.

2. Adanya masalah pada plasenta, karena jika plasenta tidak memberikan darah dan nutrisi yang cukup untuk bayi akan memungkinkan ia untuk berhenti mendaur ulang cairan.

3. Ada kebocoran atau pecahnya dinding ketuban yang membuat air ketuban keluar dari rahim.

4. Usia kehamilan sudah melewati batas, hal ini menyebabkan turunnya fungsi plasenta yang membuat cairan ketuban berkurang.

5. Adanya komplikasi pada sang ibu, misalnya dehisrasi, hipertensi, pre eklampsia, diabetes dan hipoksia kronis.

6. Proses menelan. Janin bisa menelan cairan ketuban sebanyak 20 ml per jam atau kurang lebih setengah dari jumlah total cairan ketuban per hari. Tetapi, jumlah cairan yang ditelan ini hampir sebanding dengan produksi urin janin

Klasifikasi Olygohidramnion
1. Olygohidramnion Awitan Dini
Sejumlah keadaan dilaporkan berkaitan dengan berkurangnya cairan amnion. Oligohidramnion hampir selalu nyata apabila terjadi obstruksi saluran kemih janin atau agnesis ginjal. Oleh karenanya, anuria hampir pasti merupakan etiologi pada kasus-ksus seperti itu. Kebocoran kronik suatu defek di selaput ketuban dapat mengurangi volume cairan dalam jumlah bermakna, tetapi seringkali kemudian segera terjadi persalinan. Pajanan ke inhibitor enzim pengubah – angiostetin (ACEI) dilaporkan berkaitan dengan oligohidramnion. Sebanyak 15 sampai 25 persen kasus berkaitan kasus berkaitan dengan anomali janin mampu memvisualisasikan struktur-struktur janin pada hanya separuh dari wanita yang dirujuk untuk evaluasi ultrasonografi terhadap oligohidramnion midtrimester. Mereka melakukan amnionfusi dan kemudian mampu melihat 77 persen dari struktur-struktur yang dicitrakan secara rutin. Indentifikasi anomali terkait meningkat dari 12 menjadi 13 persen.

2. Olygohidramnion pada Tahap Lanjut
Volume cairan ketuban secara normal berkurang setelah usia gestasi 35 minggu. Dengan menggunakan indeks cairan amnion kurang dari 5 cm, Casey dkk, mendapatkan insidensi oligohidramnion pada 2,3 persen dari 6400 kehamilan lebih yang menjalani sonografi setelah minggu ke-34 di Parkland hospital. Mereka memastikan pengamatan-pengamatan sebelumnya bahwa hal ini berkaitan dengan peningkatan resiko hasil perinatal yang merugikan. Pada kehamilan yang terpilih karena “resiko tinggi”, Magann, dkk, tidak mendapatkan bahwa oligohidramnion ( indeks cairan kurang dari 5 cm ) meningkatkan resiko penyulit intrapartum seperti mekonium kental, deselerasi variabel frekuensi denyut jantung, seksio sesarea atas indikasi gawat janin, atau asidemia neonatus. Chaunhan melakukan meta analisis terhadap 18 penelitian yang meliputi lebih dari 10.500 kehamilan yang indeks cairan amnion intrapartumnya kurang dari 5 cm. Dibandingkan dengan kontrol yang indeksnya lebih dari 5 cm, wanita dengan oligohidramnion memperhatikan peningkatan resiko bermakna untuk seksio.

Faktor Risiko terjadinya Olygohidramnion
Wanita dengan kondisi berikut akan meningkatkan insiden terjadinya oligohidramnion, yaitu :
· Anomaly congenital ( misalnya agenosis ginjal, sindroma potter )
· Retradasi pertumbuhan intra uterin
· Ketuban pecah sebelum waktunya ( usia kehamilan 24 – 26 minggu )
· Sindroma paska maturitas
· Terdapat riwayat Hipertensi atau preeklampsia
· Riwayat obstetric yang jelek

Gejala yang muncul jika cairan ketuban sedikit adalah:

· Uterus tampak lebih kecil dari usia kehamilan dan tidak ada ballotemen.

· Ibu merasa nyeri di perut pada setiap pergerakan anak.

· Sering berakhir dengan partus prematurus.

· Bunyi jantung anak sudah terdengar mulai bulan kelima dan terdengar lebih jelas.

· Persalinan lebih lama dari biasanya.

· Molding : uterus mengelilingi janin

· Janin dapat diraba dengan mudah

· Tidak ada efek pantul pada janin

· Sewaktu his akan sakit sekali.

· Bila ketuban pecah, air ketuban sedikit sekali bahkan hampir tidak ada yang keluar. Gejala dan tanda tersebut di dasarkan pada fakta bahwa cairan amnion yang ditemukan berada di bawah jumlah yang normal untuk usia kehamilan tertentu. Pada kehamilan normal, cairan amnion wanita bervariasi dan dapat mengalami fluktuasi. Umumnya cairan amnion meningkat hingga mencapai 1000 ml pada trimester 3 kehamilan. Menginjak usia kehamilan 34 minggu jumlah tersebut mulai berkurang secara bertahap dan menyisakan sekitar 800ml pada usia cukup bulan. Pengukuran volume cairan amnion dilakukan dengan cara ultrasonografi dan ini merupakan komponen standar pada pemeriksaan ultrasonografi lengkap dengan profil biofisik.

Diagnosa Olygohidramnion
Diagnosa dibuat dengan pemeriksaan USG yaitu dengan mengukur indeks caira ketuban (Amniotic Fluid Index= AFI). Tetapi secara klinis (dengan pemeriksaan fisik) bisa diduga dengan : pengukuran tinggi rahim dari luar serta bagian bayi yang mudah diraba dari luar (didinding perut ibu). Namun hal ini hanya berupa asumsi/dugaan saja, tetap haris dikonfirmasi dengan USG. USG juga bisa melihat anantomi janin untuk melihat kelainan seperti ginjal yang tidak tumbuh (dengan tidak terlihatnya pipis di kandung kemih janin). Serta untuk mengetahui adanya gangguan pertumbuhan janin. Pemeriksaan dengan spekulum dapat dilakukan guna mendeteksi adanya kebocoran air ketuban akibat pecahnya air ketuban.

Penatalaksanaan Medis Olygohidramnion
Tindakan Konservatif :
1. Tirah baring.
2. Hidrasi.
3. Perbaikan nutrisi.
4. Pemantauan kesejahteraan janin ( hitung pergerakan janin, NST, Bpp ).
5. Pemeriksaan USG yang umum dari volume cairan amnion.
6. Amnion infusion.
7. Induksi dan kelahiran Penatalaksanaan bergantung pada usia kehamilan,pada kehamilan Pre-term : mengevaluasi dan memonitor keadaan fetal dan maternal agar tetap dalam kondisi optimal

Prognosis Olygohidramnion
Hasil janin pada oligohidramnion awitan dini buruk. Dari sekitar 80 persen kehamilan semacam itu dan hanya separuh dari janin-janin ini yang selamat. Dan sekitar 34 kehamilan midtrimester yang mengalami penyulit oligohidramnion dan didiagnosis secara ultrasonografis berdasarkan tidak adanya kantung cairan amnion yang besarnya tidak adanya kantung cairan amnion yang besarnya lebih dari 1 cm di semua bidang vertikal. Sembilan (26 persen) dari janin-janin ini mengalami anomali, dan 10 dari 25 yang secara fenotipe normal mengalami abortus spontan atau lahir mati karena hipertensi ibu yang parah, hambatan pertumbuhan janin, atau solutio plasenta. Dari 14 bayi lahir hidup, dengan delapan lahir preterm dan tujuh meningkat meninggal. Enam bayi yang lahir aterm tumbuh normal. Oligohidramnion sebelum minggu ke-37 pada jani yang tumbuh sesuai masa kehamilannya memperhatikan peningkatan angka kelahiran preterm sebesar tiga kali lipat, tetapi tidak untuk hambatan pertumbuhan atau kematian janin.
Temuan lain melaporkan otopsi pada 89 bayi dengan sekuensi oligohidramnion. Hanya 3 persen yang memiliki saluran ginjal normal; 34 persen menderita agnesis ginjal bilateral; 34 persen displasia kistik bilateral; 9 persen agnesis unilateral dengan displasia; 10 persen kelainan saluran kemih minor. Bayi yang tadinya normal dapat mengalami awitan dini yang parah. Perlekatan antara amnion dan bagian-bagian janin dapat menyebabkan kecacatan serius termasuk amputasi. Selain itu, akibat tekanan dari semua sisi, penampakan janin menjadi aneh, dan kelainan otot-rangka, misalnya kaki gada (clubfoot) sering terjadi.

Komplikasi Olygohidramnion
· Congenital malformation
· Pulmonary hypoplasia
· Fetal compression syndrome
· Amniotic band syndrome
· Abnormal fetal growth or IUGR
· Decreased fetal blood volume, renal blood flow, and, subsequently, fetal urine output
· Fetal morbidity

Pengobatan Olygohidramnion dengan Tahitian Noni Bioactive Beverage

Mekanisme kerja secara ilmiah mampu bekerja di tingkat molekular untuk :
  • Meningkatkan dan merevitalisasi sistem kerja tubuh (self healing), bekerja melindungi, memperbaiki, mengaktifkan, meremajakan dan meregenerasi sel secara optimal
  • Memberikan efek manfaat yang optimal serta aman dikonsumsi baik oleh wanita hamil, menyusui, bayi, anak-anak hinggak orang dewasa, yang mencakup segala kondisi kesehatan.
For Consultasi : 081296033337 


  

 

Obat Herbal Abortus (Keguguran) Alami

Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu hidup di luar kandungan (Saifuddin, 2002). Abortus adalah kegagalan kehamilan sebelum umur 28 minggu atau berat janin kurang dan 1000 gram (Manuaba, 2008).

Penyebab Abortus/ Keguguran

- Kelainan Telur

Kelainan telur menyebabkan kelainan pertumbuhan yang sedinikian rupa hingga janin tidak mungkin hidup terus, misalnya karena faktor endogen seperti kelainan chromosom (trisomi dan polyploidi). Temuan morfologis yang paling sering terjadi dalam abortus dini spontan adalah kelainan perkembangan zigot, embrio fase awal janin, atau kadang-kadang plasenta.Perkembangan janin yang abnormal, khususnya dalam trimester pertama kehamilan, dapat diklasifikasikan menjadi perkembangan janin dengan kromosom yang jumlahnya abnormal (aneuploidi) atau perkembangan janin dengan komponen kromosom yang normal (euploidi).
Laporan menyatakan bahwa abortus aneuploidi terjadi pada atau sebelum kehamilan 8 minggu, sedangkan abortus euploidi mencapai puncaknya sekitar 13 minggu. Insiden abortus euploidi akan meningkat secara dramatis setelah usia maternal 35 tahun. Namun sebab-sebab terjadinya peristiwa tersebut belum diketahui secara pasti. Penyebab abortus euploidi umumnya tidak diketahui,tetapi mungkin bisa disebabkan oleh; kelainan genetik, berbagai faktor ibu, mungkin beberapa faktor ayah.

- Penyakit Ibu

Berbagai penyakit ibu dapat menimbulkan abortus, yaitu:
  • Infeksi akut yang berat - pneumonia, thypus dapat mneyebabkan abortus dan partus prematurus. Beberapa infeksi kronis pernah terlibat atau sangat dicurigai sebagai penyebab abortus, diantaranya Listeria monocytogenes dan Toxoplasma.
  • Kelainan endokrin, misalnya kekurangan progesteron atau disfungsi kelenjar gondok. Autoantibodi tiroid dilaporkan menyebabkan peningkatan insiden abortus walaupun tidak terjadi hipertiroidisme yang nyata. Abortus spontan dan malformasi kongenital mayor meningkat pada wanita dengan diabetes mellitus. Risiko ini berkaitan dengan derajat kontrol metabolik pada trimester pertama.
Defisiensi progesteron, karena kurangnya sekresi hormon progesteron tersebut dari korpus luteum atau placenta, mempunyai kaitan dengan insiden abortus.Karena progesteron berfungsi mempertahankan desidua, defisiensi hormon tersebut secara teoritis akan mengganggu nutrisi pada hasil konsepsi dan berperan dalam peristiwa kematian janin.
c.       Trauma, misalnya laparatomi atau kecelakaan langsung pada ibu. Trauma yang tidak menyebabkan terhentinya kehamilan sering dilupakan.Yang di ingat hanya kejadian tertentu yang tampaknya mengakibatkan abortus.
d.      Gizi ibu yang kurang baik. Tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa defisiensi salah satu zat gizi merupakan penyebab abortus. Mual dan muntah yang timbul agak sering pada awal kehamilan, dan semua penyakit yang dipicunya, jarang diikuti oleh abortus spontan. 
e.       Kelainan alat kandungan:
·         Hypoplasia uteri. 
·         Tumor uterus 
·         Cerviks yang pendek
·         Retroflexio uteri incarcerate 
·         Kelainan endometrium  
·         Faktor psikologis ibu.
 
3. Faktor Lingkungan
Paparan dari lingkungan seperti kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol serta paparan faktor eksogen seperti virus, radiasi, zat kimia, memperbesar peluang terjadinya abortus. Sigaret rokok diketahui mengandung ratusan unsure toksik antara lain nikotin yang telah diketahui mempunyai efek vasoaktif sehingga menghambat sirkulasi utero placenta. Dengan adanya gangguan pada system sirkulasi fetoplacenta dapat terjadi gangguan pertumbuhan janin yang berakibat terjadinya abortus. (kapita selekta, 2009)

Tanda dan Gejala Abortus
a.   Perdarahan vagina: merah terang (segar), atau coklat gelap dan dapat terjadi terus menerus untuk beberapa hari sampai 2 minggu (Varney, 2002).
b.   Nyeri kram ringan yang mirip dengan menstruasi atau nyeri pinggang bawah (Kusmiyati, 2009). 
c.   Pemeriksaan ultrasuara yang menunjukkan cincin gestasi terbentuk baik dengan gema dari embrio yang menunjukkan bahwa kehamilan paling mungkin dianggap sehat (Cunningham, 2005). 
d.   Pemeriksaan tes kehamilan positif (Saifuddin, 2002).
e.   Pada pemeriksaan fisik ditemukan keadaan umum lemah, wajah pucat, berkeringat banyak, tekanan darah menurun (Saifuddin, 2002). 
f.    Pada Pemeriksaan dalam ditemukan flukus ada (sedikit), ostium uteri tertutup (Kusmiyati, 2009).

Patofisiologi Abortus
Pada awal abortus terjadi perdarahan desidua basalis, diikuti nekrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut.
Pada kehamilan kurang dari 6 minggu, villi kotaris belum menembus desidua secara dalam, jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu, janin dikeluarkan lebih dahulu daripada plasenta. Hasil konsepsi keluar dalam berbagai bentuk, seperti kantong kosong amnion atau benda kecil yang tak jelas bentuknya (lighted ovum) janin lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau fetus papiraseus. (kapita selekta, 2009) 

Diagnosa Abortus
Menurut Kusmiyati (2009), diagnosa abortus imminens dapat ditegakkan berdasarkan:
a.       Anamnesis
1)    Kram perut bawah
2)    Perdarahan sedikit dari jalan lahir
b.      Pemeriksaan
1)      Flukus ada (sedikit)
2)      Ostium uteri tertutup
3)      Ukuran uterus sesuai dengan usia kehamilan
4)      Uterus lunak
c.       Pemeriksaan penunjang
1) Buah kehamilan masih utuh, ada tanda kehidupan janin
2) Meragukan
3) Buah kehamilan tidak baik, janin mati


Penanganan Abortus/ Keguguran

Penatalaksanaan menurut Fadlun, 2011 ialah:
1. Abortus imminens
a. tidak diperlukan pengobatan medik yang khusus atau istirahat total
b. anjurakan untuk tidak melakukan aktifitas fidik secara berlebihan atau melakukan hubungan seksual
c. bila perdarahan :
· Berhenti : lakukan asuhan antenatal terjadwal dan penilaian ulang bila terjadi perdarahan lagi
· Terus berlangsung : nilai kondisi janin (uji kehamilan /USG). Lakukan konfirmasi kemungkinan adanya penyebab lain (hamil ektopik/mola)
2. Abortus insipiens
a. lakukan prosedur evakuasi hasil konsepsi
· Bila usia gestasi 16 minggu, evakuasi dilakukan dengan peralatan Aspirasi Vakum Manual (AVM) setelah bagian – bagian janin dikerluarkan 
·         Bila usia gestasi 16 minggu, evakuasi dilakukan dengan prosedur dilatasi dan kuratase(D&K) 

b.      Bila prosedur evakuasi tidak dapat segera dilaksanakan atau usia gestasi lebih besar dari 16 minggu,lakukan tindakan pendahuluan dengan: 
  • Infuse oksitosin 20 unit dalam 500ml NS /RL mulai dengan 8 tetes/menit yang dapat dinaikkan hingga 40tetes/menit,sesuai dengan kontraksi uterus hingga terjadi pengeluaran hasil konsepsi. Ergometrin 0,2mg IM yang diulangi 15menit kemudian.  
  • Misoprostol 400mg per oral dan apabila masih diperlukan, dapat di ulangi dengan dosis yang sama setelah 4 jam dari dosis awal. 
 c.       hasil konsepsi yang tersisa dalam kavum uteri dapat dikeluarkan dengan AVM / D&K(hati- hati resiko perforasi) 

3.      Abortus inkomplit 
a.       tentukan besar uterus (taksir usia gestasi )kenali dan atasi setiap komplikasi(perdarahan hebat,syok,infeksi/sepsis) 
b.      hasil konsepsi yang terperangkap pada serviks yang disertai perdarahan hingga ukuran sedang, dapat dikeluarkan secara digital atau cunam ovum, setelah itu evaluasi perdarahan : 
  • Bila perdarahan berhenti,beri ergomitrin 0,2mg IM atau mitropostol 400mg per oral.  
  • Bila perdarahan terus berlangsung,evakuasi sisa hasil konsepsi dengan AVM atau D&K (pilihan tergantung usia gestasi, pembukaan serviks dan keberadaan bagian – bagian janin) 

4.      Abortus  komplit 
a.       apabila kondisi pasien baik ,cukup diberi tablet ergometrin 3x1 tablet/hari untuk 3 hari. 


5.      Abortus infeksiosa 
a.       kasus ini beresiko tinggi terjadi sepsis, apabila fasilitas kesehatan setempat tidak mempunyai fasilitas yang memadai, rujuk pasien ke RS,sebelum merujuk diberikan infuse RL/NS dan berikan antibiotika ampisilin 1gr dan metronidazol 500 mg. 

6.      Missed abortion  
Missed abortion seharusnya ditangani di RS atas pertimbangan : 
a.       plasenta dapat melekat erat di dinding rahim ,sehingga prosedur evakuasi (kuretase) akan lebih sulit dan resiko perforasi lebih tinggi 
b.      pada umumnya kanalis servisis dalam keadaan tertutup sehingga perlu tindakan dilatasi dengan batang laminaria selama 12jam 
c.       tingginya kejadian komplikasi hipofibrinogenimia yang berlanjut dengan gangguan pembekuan darah.
 Penatalaksanaan Umum secara Medis
 Penatalaksanaan abortus imminens menurut Varney (2001) adalah sebagai berikut:
a.       Trimester pertama dengan sedikit perdarahan, tanpa disertai kram: 
1)      Tirah baring (bedrest total) untuk meningkatkan aliran darah ke rahim dan mengurangi rangsangan mekanis, terutama bagi yang pernah abortus sampai perdarahan benar-benar berhenti. 
2)      Istirahatkan panggul (tidak berhubungan seksual, tidak melakukan irigasi atau memasukkan sesuatu ke dalam vagina).
3)      Tidak melakukan aktifitas seksual yang menimbulkan orgasme. 
4)      Segera beritahu bidan bila terdapat: Perdarahan meningkat; Kram dan nyeri pinggang meningkat; Semburan cairan dari vagina;  Demam atau gejala mirip flu 

b.      Pemeriksaan pada hari berikutnya di rumah sakit
1)      Evaluasi tanda-tanda vital
2)      Pemeriksaan selanjutnya dengan spekulum: merupakan skrining vaginitis dan servisitis; observasi pembukaan serviks, tonjolan kantong ketuban, bekuan darah atau bagian-bagian janin.
3)      Pemeriksaan bimanual: ukuran uterus, dilatasi, nyeri tekan, effacement, serta kondisi ketuban.
c.       Jika pemeriksaan negatif, dapat dilakukan pemeriksaan ultrasonografi untuk menentukan kelangsungan hidup janin, tanggal kelahiran, dan jika mungkin untuk menenangkan wanita. 
d.      Jika pemeriksaan fisik dan ultrasonografi negatif, tenangkan ibu, kaji ulang gejala bahaya dan pertahankan nilai normal. 
e.       Konsultasikan ke dokter jika terjadi perdarahan hebat, kram meningkat, atau hasil pemeriksaan fisik dan ultrasonografi menunjukkan hasil abnormal.
Terapi yang di berikan menurut Masjoer (2001) adalah sedativa ringan seperti Phenobarbital 3x30 mg dan menurut Manuaba (2007) diberikan terapi hormonal yaitu progesteron, misalnya Premaston hingga perdarahan berhenti.

Komplikasi  Abortus

1.      Perdarahan
2.      Perforasi 
3.      Infeksi dan tetanus 
4.      Payah ginjal akut
5.      Syok, yang disebabkan oleh syok perdarahan yang banyak dan syok septic atau endoseptik (infeksi berat atau septis) 
6.      Pada miss abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi kelainan pembekuan darah (kapita selekta, 2009)


Pengobatan Naturopathy Abortus/Keguguran dengan Tahitian Noni Bioactive Beverage

Berikut ini adalah hasil-hasil uji klinik TAHITIAN NONI Juice karya para penelitu Departemen R&D Tahitian Noni International Inc. (mencapai 58 topik publikasi uji klinik):
• TAHITIAN NONI Bioactive Beverage Sumber Antioksidan Superior
Guna Membantu Tubuh mengatasi Radikal Bebas Berbahaya. Uji klinik pada manusia double-blind dilakukan terhadap 68 perokok aktif. Hasilnya, efek mengkonsumsi TAHITIAN NONI Bioactive Beverage (2 oz/hari) selama 1 bulan signifikan mereduksi radikal bebas plasma untuk jenis SAR (27%) dan LPO (23%) dibamdingkan plasebo (Wang, min-Yang et al. XI Biennial Meeting of the Society for Free Radical Research International, 2002).

• TAHITIAN NONI Bioactive Beverage Meningkatkan Fungsi Sistem Imun.
Uji klinik pada manusia dilakukan terhadap 12 relawan yang sehat. Hasilnya, efek mengkonsumsi TAHITIAN NONI Bioactive (330 mL) selama 8 minggu signifikan mereduksi MDA, meningkatkan aktivitas IL-2 dan sel NK, tanpa memicu efek samping.
Selain uji klinik yang resmi diprogramkan Tahitian Noni International Inc., efikasi Morinda citrifolia L. juga cukup menarik perhatian para ilmuan biomedik dari berbagai negara. Misalnya, Departemen Kesehatan Amerika menghibahkan dana penelitian untuk uji klinik fase- 1 mengenai toleransi dosis dan toksisitas produk olahan Morinda citrifolia L. 2000 mg selama 28 hari.
Dosis ini terus ditingkatkan dengan penambahan 2000 mg selama 28 hari. Dosis ini terus ditingkatkan dengan penambahan 2000 mg/hari, sampai tercapai dosis maksimal 10 gram per hari (Isset et al. Qual Life Res, 2005). Dosis aman ini setara dengan 200 mL (secangkir) TAHITIAN NONI Bioactive. Berdasarkan uji klinik tahap- 1, maka jus noni dikategorikan aman dijadikan sumber nutrisi untuk meningkatkan kualitas kesehatan.
Dan masih banyak lagi riset tentang Morinda citrifolia L. sebagai produk naturaseutikal atau etnomedika terpopuler di dunia. Sampai akhir tahun 2008 saja diperkirakan lebih dari 300 Jurnal internasionlal telah mempublikasikan keunggulan efek terapeutik Morinda citrifolia L. sementara itu jus noni sebagai produk komersil nutrisi atau suplemen dilaporkan telah memecahkan rekor penjualan tertinggi di Amerika, dan dalam dua dekade terakhir tercatat sebagai produk botani yang paling laris di dunia (News, Alternative Medicine, 2007). Jadi, sangat wajar terjadi ledakan riset Morinda cifitrolia L. karena produk komersilnya benar-benar digandrungi masyarakat global.
Terakhir, di bawah ini akan disarikan hasil-hasil riset biomolekuler tentang Morinda cifitrolia L. (noni) karya para peneliti lintas negara yang dipublikasikan melalui aneka jurnal internasional.

• TAHITIAN NONI Bioactive Beverage Berfungsi sebagai Ansiolitik dan Sedatif (penenang, antistres) Melalui Mekanisme Kompetitif Ligan
Yakni Efek Agonis melalui Pengikatan Reseptor Asam Gama-Amino Butirat (GABA?). Hasil uji in vitro memakai rdioligan (3H) memperlihatkan signifikasi aftinitas ekstrak buah noni terhadap reseptor GABA? (neurotransmiter inhibisi) sekuat 75% (S. Deng. Et al. Phytomedicine, 2007).

• Ekstrak Morinda cifitrolia L. secara in vitro memilki Aktivitas Antiviral, Antifungal, Anti Bakterial, serta aktivitas Anti Komplemen.
Penelitian ini memperkuat manfaat anti-infeksi Morinda cifitrolia L. yang secara tradisional diyakini oleh bangsa Polinesia (Locher et al. Journal of Ethnopharmacology, 1995).

Tahitian Noni Juice meningkatkan kesuburan organ reproduksi wanita
Tahitian Noni Juice meningkatkan kualitas dan fungsi reproduksi pria
Tahitian Noni Juice mencegah kelainan janin
Tahitian Noni Juice menjaga kualitas sperma yang disimpan untuk inseminasi buatan
Tahitian Noni Juice mencegah sel rusak
Tahitian Noni Juice memperbaiki sel-sel rusak
Tahitian Noni Juice bekerja sesuai dengan keadaan biologis tubuh